Jenewa, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, Rabu (4/1/2023), mengkritik definisi kematian Covid-19 yang digunakan oleh Cina. WHO memperingatkan bahwa statistik resmi itu tidak menunjukkan dampak sebenarnya dari wabah tersebut.
Peningkatan kasus Covid-19 di Cina memunculkan kekhawatiran bagi sejumlah pihak. Pasalnya, sejak pemerintah Cina mencabut kebijakan ‘zero-covid’ yang berlangsung sejak pandemi bermula pada akhir 2019, kini, negeri Tirai Bambu itu melaporkan peningkatan jumlah pasien rawat inap di rumah sakit serta krematorium.
“Kami masih belum memiliki data yang lengkap,” kata Direktur kedaruratan WHO, Michael Ryan, sebagaimana dilansir Channel News Asia dari AFP.
“Kami percaya bahwa angka yang diterbtikan dari Cina kurang mewakili dampak sebenarnya dari penyakit tersebut dalam hal penerimaan rumah sakit, penerimaan ICU dan khususnya dalam hal kematian,” sambungnya.
Sejak kasus Covid-19 kembali merebak pada Desember 2022, Cina ‘hanya’ mencatatkan 22 kematian Covid-19 saja. Rendahnya angka kematian tersebut terjadi setelah pemerintah mempersempit kriteria kematian Covid-19. Artinya, statistik Beijing tentang gelombang yang belum pernah terjadi sebelumnya itu tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.
“Itu definisi yang sempit,” kata Ryan.
Sementara itu, pimpinan teknis Covid-19 untuk WHO, Maria Van Kerkhove, menduga kemunculan varian baru di balik peningkatan kasus Covid-19 di sejumlah negara di luar Cina. Varian tersebut bernama Omicron XBB 1.5.
Meski demikia, belum ada indikasi bahwa varian XBB 1.5 menyebabkan gejala penyakit yang lebih parah dari pada varian Covid-19 lainya. Lonjakan kasus XBB 1.5, kata van Kherkove, menunjukkan betapat pentingnya pengawasan Covid-19 di seluruh dunia.
“Ada lebih dari 13 juta kasus Covid-19 yang dilaporkan ke WHO sepanjang bulan lalu,” kata van Kerkhove.
“Kami tahu (angka) itu terlalu rendah karena pengawasan telah menurun,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mengatakan angka kematian Covid-19 juga meningkat hingga 15 persen sepanjang Desember ketimbang bulan sebelumnya.
“Setiap pekan, sekitar 10.000 orang meninggal karena Covid-19 yang kami ketahui. Jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi,” tutup Tedros. [Mohamad Deny Irawan]






















