Jakarta, Gontornews – Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kemarau yang lebih kering dibanding tahun 2022, serta kemungkinan kehadiran variabilitas iklim EL Nino rendah di akhir tahun 2023 mendorong Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marvest) Luhut B Panjaitan untuk membentuk Tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). TMC disiapkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta mengisi air di waduk-waduk guna menjamin ketersediaan air untuk pertanian.
Instruksi Menko Marvest ditindak-lanjuti dengan Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) pada 5 Januari 2023 di BMKG – Jakarta yang dipimpin Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Rakornis tersebut dihadiri Deputi Menko Marvest, Nani Hendiarti, para Deputi BMKG, Mantan Menko Kemaritiman 2014-2015, Indroyono Soesilo, Tim TMC, dan Tim Industri Jasa TMC di Indonesia.
Dalam pengantarnya, Deputi Nani mengungkapkan kesuksesan pelaksanaan TMC di berbagai wilayah dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk sukses penerapan TMC dalam gelaran KTT G-20 di Bali pada 15-16 November 2022. Keberhasilan di Bali lantas mendorong Pemerintah untuk memperkuat TMC, baik dari segi teknologi, sumberdaya, maupun kelembagaannya.
“Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, maka perlu disodorkan beberapa pilihan kebijakan agar TMC bisa diperkuat dan bisa diterapkan di beragam kegiatan dalam sistem pengelolaan sumberdaya air terintegrasi,” ungkap Deputi Nani.
Pakar TMC Tri Handoko Seto memaparkan kegiatan TMC di Indonesia dalam tiga tahun terakhir yang meningkat pesat, terutama untuk pengisian air di waduk waduk, penanganan karhutla, serta untuk pengurangan densitas hujan diberbagai wilayah.
Mantan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) sekaligus pakar TMC, Asep Karsidi, menyebut perkembangan teknologi TMC di Indonesia sudah bergerak maju. Dari Operasi Hujan Buatan lewat penebaran benih semai dari udara menggunakan pesawat besar menuju ke Operasi TMC menggunakan teknologi flares yang diangkut pesawat kecil bermesin tunggal, namun memiliki daya lebih besar dibandingkan dengan menggunakan pesawat besar.
Selain itu, tersedia pula teknologi TMC bersifat statis menggunakan flares yang dinyalakan di cerobong, dipasang di wilayah yang hujannya lebat, agar bisa membaurkan awan sehingga bisa mengurangi densitas hujan dan mencegah banjir. Operasionalisasi teknologi flares statis ini telah berlangsung di konsesi-konsesi pertambangan batubara di Kalimantan Timur untuk menjamin operasi tambang tidak terganggu hujan yang lebat.
Selain kesiapan pesawat-pesawat TNI Angkatan Udara (TNI-AU) untuk operasionalisasi TMC konvensional, saat ini industri jasa TMC di Indonesia telah menyiapkan 14 pesawat bermesin tunggal untuk melaksanakan operasi TMC menerapkan teknologi flares.
Ke depannya Rakornis juga menyepakati bahwa penguatan TMC di Indonesia perlu didukung sistem standarisasi yang baku, yang dihimpun dari hasil kajian beragam TMC. Kegiatan TMC pada tahun 2023 ini diharapkan dapat digelar pada akhir musim penghujan dan awal musim kemarau, saat ketersediaan awan cukup dan berpotensi diturunkan menjadi hujan sesuai data cuaca yang disiapkan BMKG. [Faris SR]






















