Yogyakarta, Gontornews — Ustadzah Elsadila Dhini Hanima Lc MPd dan Dr Ustadz Imam Wicaksono Lc MA merupakan sepasang suami istri pejuang pendidikan al-Qur’an di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka mengelola pusat lembaga tahfizh Al-Manaar li Tahfizh Qur’an yang terletak di Purbayan Kotagede dan Pondok Modern Tahfidz Qur’an Al-Manaar di Dusun Genjahan, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, DIY.
Kepada Gontornews.com, Dini begitu sapaannya, menceritakan bahwa ia dan suami sejak muda memang senang mengajar al-Qur’an.
“Kami ingin mempunyai lembaga pendidikan al-Qur’an, ingin membumikan al-Qur’an, ingin mendidik generasi-generasi yang cinta dan hafal al-Qur’an, serta baik bacaan al-Qur’annya,” harap Pimpinan Yayasan Al-Manaar Ihsan Azhari, sebuah lembaga tahfidz al-Qur’an yang didirikan oleh pasutri alumni Pondok Modern Darussalam Gontor 2007 itu.
Guna menggapai cita-cita yang mulia tersebut, pasangan ini pun lantas mulai bergerak dan mendirikan Al-Manaar pada tahun 2020 dan diawali hanya dengan 20 orang santri.
Berkat ridha Allah SWT dan kesungguhan dari para mujahid al-Qur’an yang tergabung di dalamnya, kini telah hadir 9 cabang lembaga tahfidz al-Qur’an yang dikelola Ustadzah Dini dan Ustadz Imam.
“Semua santri kami yang kini berjumlah sekitar 300-an santri ini free Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP),” ungkap dai’ah di beberapa majelis taklim tersebut. Hanya saja, sambung Dini, ada beberapa kampus yang santrinya kami wajibkan infaq wakaf bulanan. “Jadi bulanan mereka yang dibayarkan ke Al-Manaar akadnya ialah infaq wakaf bukan SPP,” imbuhnya.
Dalam sistem membuka cabangnya sendiri, sambung ibu empat anak tersebut, nantinya tuan rumah yang bersedia serta memiliki lokasi atau rumah yang tidak terpakai, misal ruang tamu atau joglo akan dijadikan sebagai tempat menghafal al-Qur’an.
“Selanjutnya untuk sistem, administrasi, dan pembinaan guru semua akan mendapat pendampingan langsung dari tim Al-Manaar,” terang putri kelahiran Yogyakaarta, 24 Juni 1989 tersebut.
Yayasan Al-Manaar yang didirikan di Yogyakarta ini diakui sang pendiri bertujuan untuk pertama, mencetak kader imam-imam masjid di seluruh Indonesia yang berakhlak mulia, fasih, dan berjiwa dai. Kedua, mencetak hafizah yang akan membuat miliu tahfiz dalam keluarga mereka.
Sedangkan metode pengajarannya mengutamakan pada tahsin bacaan sesuai Matan Al-Jazariyah. Ayat yang sedang ditahsin diulang-ulang dengan talqin. Setelah pengulangan ayat berkali-kali, santri akan hafal ayat yang telah ditahsin.
Murajaah hafalan sendiri dilakukan setiap awal pertemuan. Pada proses murajaah terbagi tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yakni murajaah ayat yang baru dihafal, murajaah ayat yang telah disetorkan, dan murajaah hafalan yang telah lama dimiliki.
Kini, tidak hanya berhasil menyebarkan ‘virus-virus’ cinta al-Qur’an kepada masyarakat sekitar lewat lembaga tahfidz dengan santri non mukim, namun Dini dan Imam juga telah berupaya membangun dan membesarkan pondok tahfidznya untuk para santri yang hendak bermukim mendalami ilmu-ilmu al-Qur’an, agama, dan sains.
Ustadzah Dini menambahkan bahwa jika kita mendidik santri-santri putra, maka kita sudah melahirkan calon-calon imam masjid yang hafal dan baik bacaan al-Qur’annya. Sedangkan jika kita mampu mendidik santri putri, kita bukan hanya mendidik satu anak saja, akan tetapi dua anak bahkan lebih. “Karena kelak mereka akan menjadi ibu dan mempunyai keturunan yang cinta pada al-Qur’an,” tutup Guru Tahfizh dan Guru Bahasa Arab PMTQ Al-Manaar itu. [Edithya Miranti]


















