Landasan Teologis
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS Al-Jumu’ah: 2)
Interpretasi Para Mufasir
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada kaum yang ummiyin (buta huruf), yaitu orang-orang Arab pada waktu itu yang tidak memiliki kitab suci sebelumnya. Ummiyin berarti “tidak bisa membaca dan menulis” atau “tidak memiliki kitab.” Rasulullah datang dari kalangan mereka sendiri, untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, yang sebelumnya tidak mengetahui wahyu atau ajaran-ajaran Allah.
Menurut Ibnu Katsir, Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa tugas utama, yaitu membacakan ayat-ayat Allah (tilawah), menyucikan jiwa mereka (tazkiyah), mengajarkan kitab (Al-Qur’an), dan hikmah (Sunnah). Menurut Ibnu Katsir, hikmah di sini berarti pemahaman mendalam tentang agama, yakni Sunnah Nabi SAW. Dengan kehadiran Nabi Muhammad, kaum Arab yang sebelumnya dalam kesesatan yang nyata (dalam penyembahan berhala dan perilaku jahiliyah) diberi hidayah dan petunjuk melalui wahyu Allah SWT.
Sementara itu Al-Qurthubi dalam tafsirnya menekankan bahwa ayat ini menunjukkan keadaan jahiliyah sebelum kedatangan Rasulullah SAW. Orang-orang Arab kala itu ummiyin, tidak memiliki ajaran agama yang benar, dan hidup dalam kegelapan spiritual. Pengutusan Nabi Muhammad menjadi momen penting dalam sejarah manusia, di mana Allah mengirimkan seorang Rasul untuk membawa mereka keluar dari kebodohan menuju kebenaran.
Al-Qurthubi juga menyoroti aspek penyucian (tazkiyah). Rasulullah tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menyucikan jiwa manusia dari sifat-sifat tercela seperti syirik, keserakahan, dan akhlak buruk. Ini menunjukkan bahwa pendidikan agama tidak hanya menyentuh aspek intelektual, tetapi juga moral dan spiritual.
Sedangkan Al-Baghawi dalam tafsirnya menyebutkan, kata “ummiyin” merujuk pada bangsa Arab yang tidak memiliki kitab suci sebelumnya dan tidak mengenal wahyu dari Allah sebelum Nabi Muhammad SAW diutus. Mereka hidup dalam kejahiliyahan dan kesesatan yang nyata, sehingga kedatangan Rasulullah membawa perubahan besar dengan membacakan wahyu Allah.
Al-Baghawi juga menekankan bahwa Nabi Muhammad mengajarkan mereka Al-Qur’an dan memberikan hikmah dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah memberikan pendidikan yang menyentuh akal dan jiwa, serta menyucikan umat dari penyembahan berhala dan perilaku buruk yang merusak moralitas.
Para mufasir sepakat bahwa surat Al-Jumu’ah ayat 2 menjelaskan pentingnya peran Rasulullah SAW sebagai pembawa wahyu dan pemimpin spiritual yang membawa umat dari kesesatan menuju cahaya petunjuk Allah. Rasulullah diutus kepada kaum ummiyin yang tidak memiliki kitab suci sebelumnya, dan beliau bertugas untuk: Pertama, membacakan ayat-ayat Allah (tilawah) yaitu menyampaikan wahyu yang diterima dari Allah kepada umat manusia. Kedua, menyucikan jiwa mereka (tazkiyah) yaitu membersihkan umat dari keburukan akhlak dan spiritual, serta mengarahkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik. Ketiga, mengajarkan kitab dan hikmah. Rasulullah mengajarkan Al-Qur’an (Kitab) dan memberikan hikmah berupa ajaran dan Sunnah yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai Pedagogis
QS Al-Jumu’ah ayat 2 mengandung nilai-nilai pendidikan bagi umat manusia. Pertama, pendidikan berbasis keteladanan yaitu Rasulullah SAW sebagai role model. Dalam konteks pedagogis, Rasulullah merupakan teladan yang sangat ideal bagi umat manusia. Beliau bukan hanya seorang pengajar yang mengajarkan wahyu, tetapi juga memperlihatkan langsung bagaimana seharusnya seorang manusia hidup, bersikap, dan berperilaku. Pendekatan ini mengajarkan pentingnya guru menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya, terutama dalam hal moralitas, integritas, dan spiritualitas. Karena itu dalam proses pembelajaran, guru diharapkan tidak hanya memberikan teori tetapi juga mampu menjadi contoh konkret dari nilai-nilai yang diajarkan.
Kedua, pendidikan holistik yaitu pendidikan yang menggabungkan aspek spiritual dan intelektual. Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ilmu (pendidikan intelektual), tetapi juga melibatkan tazkiyah atau penyucian jiwa (pendidikan spiritual). Nilai pedagogis ini menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik, sehingga membentuk individu yang utuh dan seimbang dalam aspek emosional, moral, dan spiritual. Karena itu, pembelajaran harus berorientasi pada pengembangan kepribadian secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada pencapaian akademik tetapi juga karakter.
Ketiga, pendidikan berbasis penyucian jiwa (tazkiyah) yaitu pembentukan karakter moral. Nilai tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa) dalam ayat ini menggambarkan bahwa pendidikan sejati bertujuan untuk membersihkan hati dari sifat-sifat buruk seperti keserakahan, iri hati, dan egoisme. Dari sudut pandang pedagogis, pembelajaran harus mendorong pembentukan karakter yang kuat, membantu siswa untuk menghindari sikap materialistis, dan mendorong kehidupan yang beretika serta berlandaskan moral yang tinggi. Karena itu, pembelajaran harus memperhatikan perkembangan moral siswa dan memberikan ruang bagi refleksi diri untuk membangun pribadi yang baik.
Keempat, pendidikan yang mempromosikan kesederhanaan dan keseimbangan yaitu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Rasulullah mengajarkan pentingnya hidup sederhana dan menghindari keserakahan terhadap dunia. Dalam konteks pendidikan, ini berarti pengajaran harus mendorong siswa untuk memahami nilai dari keseimbangan antara pencarian ilmu dunia dan persiapan untuk akhirat. Pendidikan tidak seharusnya hanya mengejar pencapaian materi, tetapi juga menanamkan nilai bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kebersihan hati, bukan pada kekayaan duniawi. Karena itu, pembelajaran harus menekankan pentingnya kesederhanaan dalam hidup, serta sikap tawakkal (berserah diri kepada Allah) dalam segala usaha.
Kelima, pendidikan berbasis kebersamaan dan kolaborasi yaitu pendidikan yang mengutamakan nilai persatuan dan kerjasama: Salah satu misi Rasulullah SAW dalam mendidik umat yaitu mengajarkan kebersamaan dan persatuan. Dalam perspektif pedagogis, ini berarti proses pendidikan harus membangun sikap kolaboratif, siswa belajar untuk bekerjasama, menghormati perbedaan, dan membangun rasa kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama. Karenanya, pembelajaran harus mendorong siswa untuk bekerja dalam kelompok, mengembangkan kemampuan berkolaborasi, dan saling mendukung dalam belajar.
Keenam, pendidikan yang menekankan pada pemanfaatan ilmu untuk kebaikan, mengajarkan hikmah dalam bertindak. Rasulullah tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan hikmah, yakni kebijaksanaan dalam penerapan ilmu tersebut. Dari perspektif pedagogis, pendidikan seharusnya tidak hanya fokus pada transfer ilmu, tetapi juga pada bagaimana ilmu tersebut dapat diterapkan secara bijak untuk kemaslahatan umat. Dalam konteks pelaksanaan pembelajaran, guru harus memastikan bahwa siswa mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks yang relevan, bermanfaat, dan berdampak positif bagi masyarakat.
Refleksi Nilai-nilai Kepribadian Rasulullah SAW
Refleksi nilai-nilai kepribadian Rasulullah SAW merupakan proses mendalam untuk memahami dan menghayati sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Proses ini bukan hanya sekadar mempelajari sejarah atau biografi beliau, melainkan lebih jauh lagi yaitu upaya untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nilai-nilai kepribadian Rasulullah SAW di antaranya: jujur (sebagai Al-Amin), sederhana (tidak terikat dengan dunia), dermawan (peduli pada orang lain), dan tawakkal (berserah diri kepada Allah).
Nabi Muhammad SAW merupakan orang yang paling baik perangainya, halus budi pekertinya, tidak keras tidak pula berhati kasar.
Betapa tinggi serta mulia akhlak Rasûlullâh SAW. Allâh SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS Al-Qalam: 4)
Rasulullah SAW teladan bagi umat manusia, petunjuk dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Allâh berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS Al-Ahzab: 21)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Maraghi disebutkan bahwa kata uswatun hasanah berasal dari dua kata yaitu uswah yang berarti teladan, dan hasanah, berasal dari kata hasuna, yahsunu, husnan wa hasanatan, yang berarti sesuatu yang baik, pantas, dan kebaikan.
Selain teladan dalam menjadi pemimpin, Rasulullah juga menjadi teladan dalam hal yang lebih penting. Menurut Syekh Mutawalli, di antara teladan paling agung Rasulullah yaitu hatinya tidak pernah lupa untuk mengingat Allah SWT.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah SAW dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya.”
Pribadi Rasûlullâh SAW merupakan pribadi yang sangat agung, yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Akhlak beliau memadukan antara pemenuhan terhadap hak Allâh, sebagai Rabb-nya dan penghargaan kepada sesama manusia. Dengannya, hidup menjadi bahagia dan akhirnya berbuah manis serta terhindar dari pesona dunia yang fana.
Rasulullah SAW diutus kepada umat manusia untuk menyempurnakan akhlak agar umat manusia selamat di dunia dan di akhirat. Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR Al-Baihaqi)
Rasulullah SAW merupakan rahmat bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS Al-Anbiya: 107)
Mari hendaknya kita senantiasa mencintai Nabi Muhammad SAW dengan mengikuti semua ajarannya. Semua yang sudah dicontohkan oleh Nabi SAW.
Rasulullah Saw bersabda:
« لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ » [أخرجه البخاري ومسلم]
“Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga menjadikan diriku lebih ia cintai daripada kedua orangtuanya, anak serta seluruh manusia.” (HR Bukhari No: 15 dan Muslim No: 44)
Karena itu mari kita memperbanyak membaca shalawat sebagai rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab: 56)
Kunci Menemukan Kebahagiaan Sejati
Lalu apa saja kepribadian Rasulullah SAW yang harus diteladani sebagai kunci menemukan kebahagiaan sejati? Pertama, Rasulullah senantiasa jujur dan kejujuran membawa kepada kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong)’.” (HR Al-Bukhâri No: 6094)
Kedua, Nabi Muhammad SAW merupakan seorang hamba yang banyak sekali bersyukur kepada Allâh atas nikmat-nikmat-Nya. Bahkan beliau SAW pernah shalat sampai kedua kakinya bengkak, sehingga ada yang mengatakan:
يَا رَسُوْلَ اللهِ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Wahai Rasûlullâh! Allâh telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang datang?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringan menjawab, “Apakah aku tidak mau menjadi hamba yang banyak (pandai) bersyukur?” (HR Bukhari dan Muslim)
Ketiga, Nabi senantiasa beristighfar dan bertobat kepada Allah setiap hari. Rasulullah SAW bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR Bukhari)
Keempat, Rasulullah SAW senantiasa menghindari kezaliman dan sifat kikir. Rasulullah SAW bersabda:
وكان صلى الله عليه وسلم يقول: ((اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ: حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hindarilah berbuat zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat, dan hindarilah sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir telah mencelakakan umat sebelum kalian; sifat ini membawa mereka saling menumpahkan darah, dan menghalalkan hal yang telah diharamkan oleh Allah.” (HR Muslim)
Kelima, Rasulullah SAW senantiasa menjauhi hawa nafsu.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. (QS An-Nisa: 135)
Kisah Teladan
Umar bin Khattab bercerita: Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya.
Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya. Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, “Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya.”
Umar lalu berkata, “Wahai Rasulullah janganlah memberi di luar batas kemampuanmu.” Rasulullah SAW tidak menyukai perkataan Umar tadi.
Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfaq. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi)
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُبِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَـنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan pengampunan-Mu dari siksaan-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung sanjungan terhadap-Mu, sebagaimana Engkau menyanjung-Mu atas diri-Mu. (HR Muslim) []




















