Gurumu di Pondok Modern ini adalah sistemnya, metodenya. Kalau sudah tidak percaya kepada metode Pondok Modern, sistem memimpin di Pondok Modern ini, tidak ada gunanya di sini. Nasihat kami sejak dahulu, “Lebih baik anak yang seperti itu lekas pergi sebelum dikutuk, lekas pergi sebelum diusir dan dikutuk.”
Orang yang mempunyai paham tidak/kurang percaya kepada pondok dengan segala metodenya, dengan segala disiplinnya, lebih baik lekas pulang sebelum diusir dan dikutuk. Yang mengutuk bukan guru-gurunya saja. Allah yang mengutuk dan teman-teman anak itu.
Di antara aktivis 19 Maret 1967 betul-betul tampak sekali terkutuk, menjadi gila, telanjang sepanjang jalan. Yang lain lagi berjalan terus sepanjang malam. Yang gila itu, orangtuanya datang ke sini memintakan ampun anaknya. Kami katakan, “Dia tidak berdosa kepada saya pribadi, bagaimana saya mengampuniya.” Saya pribadi tidak bisa mengampuni karena gurunya itu bukan saya pribadi. Yang lain ada yang bingung tidak karuan. Saya paling kasihan, dia barasal dari Jawa Timur (Gresik), berkeliling-keliling di Jakarta. Akhirnya ditemukan mati di jalan, lalu dibawa ke Rumah Sakit. Setelah diperiksa, baru teman-temannya tahu bahwa ia adalah teman mereka. Ini contoh terkutuk. Yang mengutuk bukan saya.
Pada tahun 1950–an, ada anak Kalimantan yang pulang kampung. Anak itu dulunya di Gontor nakal. Di kampung namanya hancur. Akhirnya dikatakan oleh temannya, “Itu terkutuk oleh pondoknya.” Ketika itu Idham Chalid sendiri yang mengatakan, “Yang mengutuk itu bukan gurunya, tanah di Gontor itu yang keramat.”
Sekali lagi kami ingatkan, kalau mulai tidak percaya lekas pulang saja. Ada anak Jakarta yang pintar otaknya. Ia kirim surat kepada orangtuanya, “Saya sudah tidak kerasan di Gontor. Daripada nanti saya diusir, lebih baik pulang sendiri. Kalau saya diusir, maka hilang segala-galanya. Tidak ada harganya badan saya ini nanti.” Ini sebagai contoh, supaya anak-anak betul-betul mengerti kamu ke sini untuk belajar, untuk mendapat ilmu, untuk mendapat pendidikan. Yang saya khawatirkan itu kalau kamu masuk kemari itu utusan Dajjal.
Kami tidak bisa husnudzan kepadamu, sebab kami pernah husnudzan dan akhirnya meletus. Orang-orang yang kami percayai untuk mengatur jadwal pelajaran, yang saya anggap sebagai sekretaris, ternyata mereka itu yang menjadi bibit-bibit fitnah. Sehingga terjadi peristiwa 19 Maret 1967 itu.
Maka jangan terlalu menyalahkan kami kalau kami sering-sering tidak husnudzan kepadamu. Kami akan sering-sering suudzan, curiga, cemburu. Orang yang cinta itu memang menimbulkan cemburu. Kalau pada suatu malam ada santri Gontor di Ponorogo, kami harus curiga. Harus cemburu. Kalau kami tidak cemburu, kami biarkan saja. Kalau kami biarkan saja, tak peduli, itu namanya tidak cinta. Itu namanya tidak memimpin. Kalau serba membiarkan namanya tidak memimpin, tidak cinta.
Ada peristiwa sekitar tahun 1938-1940. Ketika itu ada seorang santri Gontor pergi ke sebuah hotel di Ponorogo. Akhirnya, kena penyakit sipilis dan diusir. Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan musuh (Belanda). Ia tertangkap dan akhirnya ditembak oleh Belanda di muka umum. Ketika mau ditembak, dia masih sempat berteriak dan berkata mengharukan, “Ini ajaran guru saya. Saya tidak boleh menyerah pada musuh. Saya ikhlas ditembak.” Ini mungkin dia ingin menebus kesalahan. Semua itu merupakan peristiwa yang menjadi tamsil, ibarat bagi kita semua. []





















