Kajian tentang psikologi memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan jiwa, karena pada dasarnya psikologi adalah ilmu jiwa. Kajian yang berkembang selama ini, khususnya dalam psikoterapi hanyalah hasil adopsi dari Barat tanpa kritik dan analisis di dalamnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Imam Al-Ghazali tentang psikoterapi ilmu dan amal yang menggunakan pendekatan teologi. Imam al-Ghazali merupakan salah satu ulama yang mengkaji permasalahan jiwa berasaskan pada al-Qur’an dan al-Hadis.
Berangkat dari pengalaman dan renungan pribadi tentang konsep jiwa, penyakit jiwa, dan pengobatan jiwa, al-Ghazali menggunakan pendekatan teologi untuk merumuskan konsep jiwa secara utuh dalam keempat term yang berbeda fungsi, namun dalam satu entitas yang sama yaitu; jiwa (al-nafs), hati (al-qalb), ruh (al-ruh), dan akal (al-‘aql).
Dalam disertasi Dr Tistigar berjudul lengkap Pendekatan Teologi dalam Psikoterapi: Studi Kasus dalam Pemikiran Imam Al-Ghazali yang turut menghadirkan Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi MAEd MPhil (Promotor), Dr Bagus Riyono MA Psikolog (Co-Promotor), Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA (Penguji Pertama), dan Assoc Prof Dr Syamsuddin Arif MA (Penguji Kedua) itu, peneliti menyimpulkan tiga hal, yaitu konsep jiwa al-Ghazali, gangguan mental, dan konsep psikoterapi ilmiah serta praktik.
Pertama, untuk memahami konsep jiwa, al-Ghazali menjelaskan bahwa ada empat sinonim dari jiwa (al-nafs) sebagai istilah kunci, yaitu jiwa (al-nafs), akal (al-‘aql), hati (al-qalb), dan roh (al-rūh). Istilah pertama, jiwa (al-nafs), adalah substansi spiritual halus yang merupakan esensi sejati dari manusia yang berhubungan dengan Tuhan.
Istilah kedua, akal (al-‘aql), adalah substansi spiritual halus yang sama. Istilah ketiga, hati (al-qalb), adalah substansi halus yang bersifat spiritual, yang merupakan realitas manusia, yang mengetahui, memahami, dan mengintuisi. Istilah keempat, roh (al-rūh), adalah substansi spiritual halus yang mengetahui dan memahami, yang dirujuk oleh Tuhan. Dari hubungan antara empat sinonim jiwa, dapat dilihat bahwa sifat jiwa adalah satu entitas dengan empat tugas dan fungsi yang berbeda sesuai dengan masing-masing nama.
Hal ini kemudian dapat disebut sebagai jiwa secara keseluruhan (sifat integral dari jiwa). “Jiwa (al-nafs), hati (al-qalb), roh (al-rūh), dan akal (al-‘aql) adalah bagian-bagian yang terintegrasi dari seluruh jiwa manusia, dan bukan entitas yang terpisah,”terang doktor kelahiran Ponorogo 1992 itu. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa meskipun al-Ghazali membicarakan aspek-aspek berbeda dari jiwa dan menggunakan istilah-istilah ini untuk menggambarkan fungsi-fungsi tersebut, sambung Dr Tisti, ia juga terkadang menggunakan istilah-istilah ini secara bergantian.
Kedua, ia menyebutkan bahwa gangguan mental adalah karakter buruk. Jadi, karakter buruk sama dengan gangguan mental. Di sini, menurut al-Ghazali, karakter adalah keadaan yang mapan (dari jiwa) dari mana tindakan terjadi dengan mudah, tanpa memerlukan refleksi dan pertimbangan. Jika keadaan ini menghasilkan tindakan baik, yang dipuji oleh akal dan syariah, maka disebut karakter baik. Jika tindakan yang muncul dari keadaan ini adalah jahat, maka keadaan yang menjadi sumbernya disebut karakter buruk.
Dari konsep karakter buruk ini, ia mengkategorikan gangguan mental menjadi delapan klasifikasi, yaitu kategori pertama: kerakusan dan kelebihan dalam seks, kategori kedua: kejahatan lisan, kategori ketiga: kemarahan yang kuat, kebencian (al-ḥiqd), dan iri hati (al-ḥasad), kategori keempat: cinta dunia, kategori kelima: cinta kekayaan dan kikir (al-bukhl), kategori keenam: cinta pengaruh dan pamer (al-riyā’), kategori ketujuh: kesombongan (al-kibr) dan conceit (al-‘ujub), serta kategori kedelapan: ilusi diri (al-ghurūr).
Terakhir, psikoterapi menurut Al-Ghazali adalah upaya yang kuat untuk merawat dan menyembuhkan gangguan mental dengan mengamati penyebabnya, besaran, kondisi, usia, dan potensi perawatan secara sistematis dan bertahap untuk mencapai kesehatan diri dan kebahagiaan sejati. Selanjutnya, ia menggabungkan dua konsep psikoterapi yang disebut psikoterapi ilmiah dan praktik sebagai pengobatan untuk gangguan mental.
Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 2011 itu pun menambahkan, “Di sini psikoterapi ilmiah adalah psikoterapi dengan menanamkan pandangan dunia Islam dan memperkuatnya kepada pasien serta persetujuan dokter dengan penjelasan dan informasi yang jelas tentangnya agar memudahkan perawatan pasien.”
Sementara itu, sambung ibu dua anak itu, psikoterapi praktik berarti penyembuhan pasien yang harus dilakukan sebagai pengobatan terhadap tindakan pasien yang dipantau oleh dokter. Oleh karena itu, psikoterapi praktik ini harus dilakukan setelah menyadari ketulusan pasien dalam pemahamannya terhadap segala sesuatu yang terkait dengan gangguan mentalnya karena adanya hubungan yang kuat antara keduanya.
Dari kesimpulan ini, terlihat bagaimana konsep sifat integral dari jiwa menurut al-Ghazali berkaitan dengan konsep gangguan mental dan psikoterapinya yang didasarkan pada pendekatan teologis. Di sini, al-Ghazali telah merumuskan konsep Terapi ‘Ilm dan ‘Amal (IAT) sebagai kontribusi baru terhadap Psikoterapi Islam.
Setelah berhasil menyelesaikan penelitian tentang pendekatan teologis terhadap psikoterapi dalam kasus Imam Al-Ghazali ini, peneliti menyebutkan bahwa dari konsep psikoterapi ilmiah dan praktik yang didasarkan pada pendekatan teologis dapat diterapkan dalam pengobatan gangguan mental yang relevan dengan psikoterapi modern. Intinya, pendekatan teologisnya terhadap psikoterapi harus memperkuat konsep dan praktiknya karena hubungan yang kuat antara keduanya.
Untuk penelitian selanjutnya, peneliti merekomendasikan untuk mengeksplorasi konsep kebajikan (munjiyat) secara mendalam sebagai metode spesifik psikoterapi yang relevan dengan psikoterapi modern. Sehingga misi Islamisasi Pengetahuan Kontemporer akan terus berlanjut dan tidak akan berhenti.
Selain itu, penting juga untuk menganalisis konsep jiwa, gangguan mental, dan psikoterapi dari cendekiawan lain. “Dengan penelitian yang luas ini, dapat meningkatkan kajian Islam dan di sisi lain membangun peradaban Islam dengan meningkatkan pengetahuan dan praktiknya,” pungkasnya. [Edithya Miranti]
Biodata Peneliti
Nama Lengkap : Dr Tistigar Sansayto MAg
Tempat Tanggal Lahir : Ponorogo, 20 Oktober 1992
Alumni : Gontor Putri 2011
Pekerjaan : Dosen Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor
Suami : Moh Alwi Yusron MA
Pendidikan :
- S1 Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor (2012-2015).
- S2 Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor (2016-2017).
- S3 Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor (2018 – 2023).
Pengalaman :
- Guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1, 2011 – 2016.
- Asisten Dosen dalam materi “Worldview Islam” di UNIDA, 2017.
- Guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 2, 2021-sekarang.
Karya Tulis :
- Nisaiyyah kelas 6 KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Putri (Tim Revisi), 2019.
- Nisaiyyah kelas 5 KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Putri (Tim Revisi), 2018.
- Abdurrauf Singkels’s Insan Kamil Concept to Answer the Problem of Sexual Consent, Childfree, Nature and Nurture in Urban Society, Akademika; Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 29, No. 1, p. 87-100, May 2024. []




















