Jakarta, Gontornews – Kota Metropolitan Jakarta tidak hanya menyuguhkan panorama gedung menjulang dan riuh lalu lintas. Bagi keluarga besar Pondok Modern Darul Falah Cimenteng, Subang, Jawa Barat, kota ini menjadi ruang belajar terbuka—tempat merajut pengalaman, memperluas sudut pandang, dan meneguhkan semangat kebersamaan. Pada 20–21 Desember 2025, seluruh dewan guru, jajaran pimpinan pondok, serta Badan Wakaf berkumpul dalam “Annual Meeting ke-2” yang digelar di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, untuk menyatukan visi dan misi serta memperkuat langkah perjuangan ke depan.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan serupa yang pertama kali digelar di Bandung pada akhir 2024. Namun, Annual Meeting tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata; ia menjelma menjadi ruang refleksi bersama untuk menata ulang niat dan meneguhkan arah perjalanan pondok ke masa depan.
Kegiatan dibuka dengan “Smart Games” yang langsung memecah kebekuan. Bukan sekadar permainan, sesi ini mengajak para peserta meninggalkan zona nyaman. Para guru dibagi dalam beberapa kelompok kecil, masing-masing membawa misi menjelajahi sudut-sudut ikonik Jakarta—dari hiruk-pikuk Bundaran HI, megahnya Monas, khidmatnya Masjid Istiqlal, hingga Jembatan Persaudaraan—dengan memanfaatkan transportasi publik MRT dan Busway.
Permainan Smart Games, yang dipandu Ustadzah Naila Felisha, menghadirkan pengalaman baru yang penuh makna. Di balik tawa dan dinamika kelompok, terselip pesan penting tentang keterbukaan terhadap teknologi, keberanian mencoba hal baru, serta pentingnya kerjasama dan kepercayaan diri. Sebuah latihan sederhana, namun relevan dengan tantangan dunia pendidikan saat ini.
Dalam suasana penuh keakraban itu, Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darul Falah Cimenteng, H Agus Maulana, menyampaikan pesan dan arahannya. Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor itu menegaskan pentingnya dewan guru—baik kader maupun nonkader—untuk terus merapatkan barisan, meluruskan niat, serta bekerja lebih keras dan lebih cerdas demi kemajuan pondok.
“Nilai ketaatan dan keikhlasan menjadi fondasi utama yang harus dijaga, seiring dengan pengembangan potensi dan keterampilan dalam dunia pendidikan dan pengajaran,” ujarnya dirilis pmdarulfalah.com.
Annual Meeting ini tidak hanya penguatan ruhiyah dan intelektual, tapi juga penguatan dan penyegaran jasmani. Olahraga pagi hari ini dilaksanakan dengan jalan kaki dan lari santai menyusuri kawasan Sudirman dalam suasana Car Free Day, yang dilanjutkan dengan olahraga bersama di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Aktivitas ini menjadi simbol keseimbangan—bahwa perjuangan panjang membutuhkan tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darul Falah Cimenteng, Ustadz Komarudin MPd, pada sesi penutupan, menekankan pentingnya penguasaan teknologi informasi di era digital. “Guru dan santri harus terus meningkatkan kualitas diri agar mampu melahirkan generasi yang kuat akidahnya, taat ibadahnya, dan nyata manfaatnya bagi masyarakat,” tuturnya dikutip pmdarulfalah.com.

Menjelang kepulangan, para peserta mendapat pengalaman berkesan dengan menyusuri Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Didampingi Ustadz Fauzi Irianto, kunjungan ini menjadi penutup yang penuh makna—menghadirkan pembelajaran nyata tentang persaudaraan, toleransi, dan harmoni yang tumbuh di tengah keberagaman.
Para guru kembali ke pondok dengan semangat baru dan lebih dari sekadar cerita sebuah perjalanan; mereka membawa tekad yang diperbarui. Annual Meeting ke-2 ini menjadi penanda bahwa ikhtiar memajukan Pondok Modern Darul Falah Cimenteng merupakan kerja kolektif—bertumpu pada niat yang tulus, langkah yang selaras, dan semangat belajar yang tak pernah usai. []






















