Pukul tiga dini hari, Jakarta masih terlelap. Udara dingin menyusup lewat celah jendela asrama. Tapi di Pesantren Darunnajah delapan belas pemuda dari Australia sudah bergegas menuju kamar mandi, bersiap menunaikan shalat tahajud.
Bagi mereka yang tumbuh di Melbourne dan Sydney, bangun sebelum Shubuh merupakan sesuatu yang sama sekali asing. Sebagian mengaku belum pernah melakukannya seumur hidup. Namun di sini, di kompleks pesantren bilangan Ulujami Jakarta Selatan, mereka menjalaninya setiap hari selama dua pekan penuh.
Pemandangan ini tersaji pada Januari 2025 lalu, ketika Universitas Darunnajah menyelenggarakan Program Pesantren Kilat Internasional untuk pertama kalinya. Sebuah ikhtiar yang mengingatkan kita pada semangat para pendiri pondok modern, bahwa pesantren bukan sekadar lembaga lokal, melainkan aset peradaban yang layak diperkenalkan kepada dunia.
—
Almarhum KH Imam Zarkasyi pernah merumuskan motto yang hingga kini menjadi panduan ribuan santri pondok modern di seluruh Indonesia. Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas. Empat frasa sederhana yang menyimpan visi besar tentang manusia seperti apa yang hendak dilahirkan oleh pesantren.
Visi itu tidak pernah dimaksudkan untuk konsumsi domestik semata. Sejak awal, para pendiri pondok modern sudah membayangkan santri-santri yang mampu berkiprah di panggung internasional. Penguasaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa hidup, bukan sekadar bahasa kitab, merupakan bukti nyata dari visi tersebut.
Program Pesantren Kilat Internasional yang digelar Darunnajah merupakan kelanjutan dari semangat itu. Jika selama ini pesantren mengirim putra-putrinya ke berbagai negara untuk menimba ilmu, kini giliran dunia yang datang untuk belajar dari pesantren. Sebuah pergeseran yang patut disyukuri.
—
Delapan belas pemuda Australia itu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada 27 Desember 2024. Mereka langsung dibawa ke pesantren dan disambut santri Darunnajah yang ditugaskan sebagai pendamping. Malam itu mereka makan bersama, menunaikan shalat Isya berjamaah, lalu beristirahat. Besok pagi, sebelum adzan Shubuh berkumandang, mereka harus sudah siap.
Bagi yang terbiasa dengan kehidupan pondok, rutinitas semacam ini hal biasa. Tapi bagi mereka yang baru pertama kali merasakannya, ini pengalaman yang mengubah cara pandang.
Momen paling menghibur terjadi ketika para peserta belajar memakai sarung. Ada yang melilitnya terlalu longgar hingga melorot saat berjalan. Ada yang terlalu kencang hingga kesulitan bergerak. Para santri pendamping dengan sabar membimbing, sesekali tertawa bersama. Ukhuwah terbentuk bukan dari ceramah, melainkan dari pengalaman-pengalaman kecil yang sederhana namun berkesan.
—
Selama dua pekan, para peserta menjalani kehidupan santri seutuhnya. Bangun sebelum Shubuh. Shalat berjamaah lima waktu. Mengaji Al-Qur’an. Mengikuti kajian fikih dan tafsir. Berlatih muhadharah dalam bahasa Arab dan Indonesia. Makan bersama di ruang makan. Tidur di asrama sederhana.
Dr Much Hasan Darojat, Rektor Universitas Darunnajah, menegaskan bahwa program ini memang sengaja dirancang untuk menantang. “Kami mengajarkan peserta untuk bangun sebelum pukul empat pagi dan terlibat dalam berbagai aktivitas pesantren. Ini tidak mudah, tetapi sangat berharga,” ujarnya.
Tidak ada satu pun peserta yang menyerah di tengah jalan. Mereka bertahan hingga hari terakhir. Pada upacara penutupan tanggal 15 Januari 2025, salah seorang peserta bahkan tampil sebagai master of ceremony dengan percaya diri. Sesuatu yang mustahil dibayangkan dua pekan sebelumnya.
Inilah bukti bahwa sistem pendidikan pesantren, dengan segala kedisiplinan dan kesederhanaannya, mampu membentuk karakter dalam waktu yang relatif singkat.
—
Kesuksesan program perdana ini menarik perhatian negara serumpun.
Sebelas bulan kemudian, pada penghujung Desember 2025, giliran 25 santri dari SABP Maahad Ahmadi Negeri Sembilan, Malaysia, yang berkunjung. Mereka datang bersama tujuh guru pendamping untuk mengikuti program serupa selama satu pekan.
KH Busthomi Ibrahim PhD, Ketua Yayasan Darunnajah, menyambut hangat dan menjelaskan sejarah serta sistem pendidikan pesantren. MD Nasir Bin Othman, pimpinan rombongan dari Malaysia, berharap program ini bisa menjadi awal dari kerjasama yang lebih erat antara lembaga pendidikan Islam di kedua negara.
Harapan itu sangat beralasan. Indonesia dan Malaysia memiliki akar tradisi pesantren yang sama. Kerjasama semacam ini merupakan wujud nyata dari ukhuwah Islamiyah yang melampaui batas-batas negara.
—
Fenomena ini mengandung pelajaran penting bagi dunia pesantren secara keseluruhan.
Selama ini ada anggapan bahwa pesantren merupakan lembaga yang tertutup dan sulit beradaptasi dengan perkembangan zaman. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru karena memang ada pesantren yang demikian. Tapi anggapan itu juga tidak sepenuhnya benar karena banyak pesantren yang justru sangat terbuka dan progresif.
Pondok-pondok modern yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan bukti bahwa pesantren mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan jati diri. Mereka mengajarkan ilmu-ilmu agama sekaligus ilmu-ilmu umum. Mereka mewajibkan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Mereka membangun sistem yang kuat, tidak bergantung pada figur semata.
Program Pesantren Kilat Internasional merupakan kelanjutan dari tradisi keterbukaan itu. Pesantren tidak takut dilihat dari dekat oleh orang luar. Justru sebaliknya, pesantren dengan percaya diri mempersilakan siapa saja untuk datang, melihat, dan merasakan langsung.
—
Dr KH Sofwan Manaf, Presiden Universitas Darunnajah, memiliki filosofi yang sejalan dengan semangat pondok modern. Beliau selalu menekankan bahwa pondok harus lebih dikenal dari pimpinannya. Lembaga yang kuat merupakan lembaga yang dibangun di atas sistem, bukan di atas figur perorangan.
Prinsip ini sudah lama diajarkan oleh para pendahulu kita. Trimurti Gontor membangun sistem yang memungkinkan pesantren terus berkembang meski mereka sudah tiada. KH Zainuddin Fananie wafat tahun 1967. KH Ahmad Sahal wafat tahun 1977. KH Imam Zarkasyi wafat tahun 1985. Tapi Gontor tetap berdiri kokoh dan terus berkembang hingga hari ini.
Darunnajah, sebagai salah satu pesantren yang lahir dari tradisi pondok modern, menerapkan prinsip yang sama. Program Pesantren Kilat Internasional bukan kegiatan dadakan yang bergantung pada satu orang. Ia bagian dari sistem yang dibangun secara kolektif untuk memastikan pesantren tetap relevan di tengah perubahan zaman.
—
Ada pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka yang belum memahami dunia pesantren. Apa sebenarnya yang membuat pesantren menarik bagi orang dari luar Indonesia?
Jawabannya terletak pada sesuatu yang semakin langka di dunia modern. Komunitas yang hidup. Ikatan persaudaraan yang tulus. Pendidikan yang menyentuh hati, bukan sekadar mengisi kepala.
Di pesantren, santri tidak belajar sendirian di depan layar komputer. Mereka belajar bersama, makan bersama, shalat bersama, bahkan tidur di kamar yang sama. Mereka membentuk ikatan yang tidak bisa direplikasi oleh platform digital mana pun. Inilah yang oleh para pendiri pondok modern disebut sebagai jiwa ukhuwah Islamiyah, salah satu dari Panca Jiwa yang menjadi fondasi kehidupan pesantren.
Pesantren juga mengajarkan kesederhanaan. Bukan kesederhanaan yang berarti keterbelakangan, melainkan kesederhanaan yang membentuk kekuatan batin. Santri belajar bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada kemewahan. Bahwa disiplin merupakan jalan menuju kebebasan sejati. Nilai-nilai ini universal dan berbicara kepada siapa saja yang mencari makna di tengah kehidupan modern yang semakin hampa.
—
Program Pesantren Kilat Internasional juga mengingatkan kita pada tanggung jawab yang lebih besar.
Pesantren bukan hanya milik Indonesia. Ia warisan peradaban Islam yang harus dijaga dan dikembangkan untuk kemaslahatan umat secara keseluruhan. Ketika pemuda-pemuda dari Australia dan Malaysia datang untuk belajar, mereka sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang tidak bisa mereka temukan di tempat lain.
Tanggung jawab kita memastikan bahwa pesantren tetap mampu memberikan apa yang mereka cari. Kedalaman spiritual. Pembentukan karakter. Ilmu yang bermanfaat. Dan tentu saja, suasana kekeluargaan yang hangat.
“Kegiatan ini bukan yang terakhir,” tegas Rektor Much Hasan Darojat. “Universitas Darunnajah akan terus menghadirkan program-program berbasis pesantren yang dapat dinikmati oleh peserta dari seluruh dunia.”
Komitmen ini patut diapresiasi dan didukung. Semakin banyak pesantren yang membuka diri untuk program-program semacam ini, semakin besar pula kontribusi pesantren bagi peradaban dunia.
—
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kekhawatiran tentang masa depan pesantren merupakan hal yang wajar. Akankah pesantren mampu bertahan? Akankah generasi baru masih tertarik dengan model pendidikan yang menuntut kedisiplinan tinggi ini?
Program Pesantren Kilat Internasional memberikan jawaban yang menggembirakan. Ternyata, di era serba digital dan instan, masih ada kerinduan terhadap pendidikan yang otentik. Terhadap komunitas yang hangat. Terhadap nilai-nilai yang telah teruji selama berabad-abad.
Ketika 18 pemuda Australia dan 25 santri Malaysia memilih meninggalkan kenyamanan rumah untuk merasakan kehidupan pesantren, mereka sedang menyampaikan pesan yang jelas.
Pesantren masih relevan. Pesantren masih dibutuhkan. Dan pesantren memiliki sesuatu yang tidak bisa ditawarkan oleh sistem pendidikan mana pun di dunia.
Tugas kita menjaga warisan ini, mengembangkannya dengan bijak, dan memperkenalkannya kepada dunia dengan penuh percaya diri.
Sebagaimana pesan yang selalu disampaikan para pendahulu kita. Pesantren berdiri di atas dan untuk semua golongan. []


















