Jakarta, Gontornews – Menutup lembaran tahun 2025 dan menyambut fajar 2026, Laviola 2000 — organisasi alumni Pondok Modern Darussalam Gontor angkatan tahun 2000 — mencatatkan capaian luar biasa. Dalam laporan tahunannya, organisasi ini mengumumkan keberhasilan pengelolaan dana abadi marhalah yang mencapai jumlah hampir setengah miliar rupiah.
Bendahara Umum Laviola 2000, Imam Suhada’, mengungkapkan dana ini merupakan buah dari konsistensi sekitar 350 anggota yang rutin menyalurkan donasi sukarela. Menariknya, tradisi ini telah terjaga selama satu dekade, dimulai sejak Reuni Laviola tahun 2016 yang bertepatan dengan peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
“Setiap tanggal 1 hingga 7 setiap bulannya, para anggota secara kolektif mengumpulkan iuran rutin tanpa paksaan maupun batasan nominal. Inilah yang menjadi ‘nadi kehidupan’ bagi kegiatan sosial marhalah,” ujar Imam Suhada’.
Dari Beasiswa Yatim hingga Wakaf 100 Tahun
Ia menuturkan, fokus utama dari dana abadi ini yaitu memuliakan anak yatim dari keluarga besar Laviola yang telah berpulang. Saat ini, terdapat 35 anak yatim yang menjadi tanggung jawab marhalah.
“Ada satu anak yang kami biayai penuh untuk belajar di Gontor, mulai dari SPP, uang jajan, hingga biaya daftar ulang. Total pengeluaran rutin mencapai 17 juta rupiah per bulan, dan bisa meningkat saat bulan Syawal untuk biaya masuk sekolah,” jelas Bendahara Umum Laviola 2000 itu.
Selain santunan yatim, dana ini juga menjadi insting bantuan bagi anggota yang tertimpa musibah serta bantuan bencana alam seperti banjir di Sumatera Barat dan Aceh. Tak lupa, sebagai bentuk pengabdian kepada almamater, Laviola 2000 juga menyalurkan wakaf produktif untuk pembangunan New BPPM, hiasan lampu 100 Tahun Gontor, hingga dukungan kegiatan literasi film di Kampus Gontor Putra dan Putri.
Lima Kunci Utama
Keberhasilan mengelola dana besar tanpa konflik selama 10 tahun tentu bukan tanpa alasan. Laviola 2000 memegang teguh lima prinsip utama: Pertama, Transparansi dan Akuntabilitas. Laporan keuangan diperbarui secara berkala dengan bukti faktual, mulai dari bukti transfer hingga foto mutasi rekening. Sosok bendahara yang amanah menjadi fondasi kepercayaan anggota.
Kedua, Kesetaraan dalam Memberi. Tidak ada perbedaan perlakuan antara mereka yang menyumbang 10 ribu rupiah dengan yang memberi 1 juta rupiah. Semua diapresiasi dengan derajat yang sama.
Ketiga, Tanpa Eksklusivitas. Kedudukan anggota yang berkecukupan maupun yang sederhana tetap sama. Tidak ada pengistimewaan bagi pemilik jabatan tertentu; semua merupakan saudara.
Keempat, Rasa Memiliki yang Tinggi. Adanya kesadaran kolektif bahwa anak yatim marhalah merupakan anak kita sendiri, anak kita juga, yang wajib dijaga masa depannya.
Kelima, Semangat Almuhim Ittifaq. Tagline ini menjadi perekat yang menyatukan berbagai perbedaan pendapat demi tujuan mulia.
Transformasi Menjadi Yayasan
Imam Suhada’ menyebutkan, selama sepuluh tahun terakhir, Laviola 2000 sengaja bergerak secara organik tanpa lembaga formal untuk mengaktifkan antusiasme anggota terlebih dahulu. Namun, seiring dengan berkembangnya amanah, langkah baru pun diambil.

Berdasarkan kesepakatan pada Reuni Seperempat Abad di Darul Azhar, Banten, Mei 2025 lalu, Laviola 2000 bersiap melakukan lompatan besar. Pada tahun 2026, organisasi ini berencana membentuk Yayasan Laviola.
Langkah ini diambil untuk mengoptimalisasi pengelolaan dana abadi, memperluas jaringan, serta memastikan kegiatan sosial marhalah memiliki payung hukum yang kuat dan dampak yang lebih luas bagi umat. Dengan semangat baru, Laviola 2000 melangkah ke tahun 2026 untuk terus menebar manfaat. []





















