Landasan Teologis
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3)
Asbabunnuzul
Dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan asbabunnuzul QS Ash-Shaff ayat 2-3, Imam Qatadah dan Ad-Dhahhak berkata: Ayat ini turun berkaitan dengan urusan peperangan; seseorang berkata, “Aku telah berperang,” padahal ia tidak berperang; “Aku telah menusuk,” padahal ia tidak menusuk; “Aku telah memukul,” padahal ia tidak memukul. Maka turunlah ayat ini.
Adapun Ibnu Zaid berkata: Ayat ini turun mengenai orang-orang munafik; mereka menjanjikan kemenangan kepada kaum Mukminin, padahal mereka berdusta.
Demikian, Allah menegur orang-orang yang berkata, “Jika kami menghadapi peperangan setelah ini (perang Badar), kami pasti akan mengerahkan seluruh kemampuan kami di dalamnya.” Namun mereka lari pada Perang Uhud, maka Allah menegur mereka dengan ayat ini.
Interpretasi Para Mufasir
Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan, para mufassir berkata: Sesungguhnya orang-orang beriman berkata, “Seandainya kami mengetahui amal yang paling dicintai oleh Allah, niscaya kami akan mengerjakannya dan kami akan mengorbankan harta serta jiwa kami untuknya.”
Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.” Kemudian mereka diuji dengan hal itu pada Perang Uhud, lalu mereka berbalik mundur, maka Allah Ta’ala menurunkan: “Mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?”
Makna ayat ketiga dalam surat Ash-Shaf yaitu betapa besar kemurkaan dan kebencian di sisi Allah kepada mereka yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan, yakni mereka menjanjikan atau menyatakan sesuatu dari dirinya, namun mereka tidak menepatinya.
Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan makna firman Allah: ‘Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan?’ merupakan bentuk pengingkaran terhadap orang yang membuat janji atau mengucapkan suatu perkataan yang tidak ditepati. Oleh karena itu, ayat yang mulia ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama salaf bahwa wajib menepati janji secara mutlak, baik hal itu mengakibatkan beban (kerugian) bagi orang yang diberi janji maupun tidak.
Sementara itu Imam Malik berpendapat bahwa jika suatu janji telah menimbulkan kerugian bagi orang yang dijanjikan, maka wajib dipenuhi. Misalnya seseorang berkata kepada orang lain: “Menikahlah, dan aku akan memberimu sekian setiap hari.”
Lalu orang itu menikah, maka wajib baginya memenuhi janjinya selama kondisi itu berlangsung, karena hal itu sudah berkaitan dengan hak sesama manusia yang sifatnya harus dipenuhi.
Dalam Tafsir Al-Qurthubi, Mahran dan Adh-Dhahhak berkata: Ayat ini turun tentang kaum yang berkata: “Kami telah berjihad dan berjuang,” padahal mereka tidak melakukannya.
Ibnu Zaid berkata: Ayat ini turun tentang orang-orang munafik. Mereka berkata : “Jika kalian keluar berperang, kami akan ikut bersama kalian.” Namun ketika mereka benar-benar keluar, orang-orang munafik itu mundur dan tidak ikut.
Ayat ini menunjukkan kewajiban bagi setiap orang yang telah mengikat dirinya dengan suatu amal ketaatan untuk menepatinya.
Ayat ini menjadi dalil celaan bagi siapa saja yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melakukannya.
Kesimpulannya, ayat ini merupakan teguran keras bagi orang yang mengatakan kebaikan tetapi tidak melakukannya, mengaku melakukan sesuatu padahal tidak, dan berjanji tetapi tidak menepati
Tafsir Ath-Thabari menyebutkan, dalam ayat ini disebutkan sangat besar kebencian di sisi Allah kepada orang yang mengatakan tapi tidak mengerjakan. Sebagian ahli tafsir mengatakan: ayat ini turun sebagai teguran dari Allah kepada sekelompok orang beriman yang ingin mengetahui amal yang paling utama. Lalu Allah memberitahukan kepada mereka, tetapi ketika mereka telah mengetahuinya, mereka tidak melaksanakannya, sehingga mereka ditegur dengan ayat ini.
Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menyebutkan, ayat 2-3 menjelaskan bahwa Allah menegur orang-orang beriman: “Mengapa kalian mengaku beriman namun tidak kalian buktikan dengan perbuatan? Sungguh besar kemurkaan Allah jika kalian mengatakan sesuatu, namun kalian tidak menjalankannya.”
Inti Reflektif
Pendidikan sejati tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pada keselarasan antara ucapan, nilai, dan tindakan. Dalam ayat tersebut, Allah menegur orang-orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melaksanakannya. Pesan ini sangat relevan dengan dunia pendidikan, karena keberhasilan pendidikan ditentukan oleh integritas semua pihak yang terlibat. Bagi pendidik, ayat ini menjadi pengingat bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi teladan moral.
Nasihat tentang disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar harus terlebih dahulu tercermin dalam perilaku guru sehari-hari. Ketika pendidik konsisten antara perkataan dan perbuatan, maka wibawa dan keberkahan ilmu akan tumbuh. Bagi peserta didik, ayat ini mengajarkan pentingnya kejujuran akademik, komitmen belajar, serta tanggung jawab terhadap amanah pendidikan.
Semangat belajar tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui kesungguhan, adab, dan kerja nyata. Momentum Hari Pendidikan menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah bersama: sejauh mana pendidikan telah melahirkan insan berilmu sekaligus berintegritas. Sebab bangsa yang maju bukan hanya dibangun oleh orang-orang cerdas, tetapi oleh manusia yang jujur, amanah, dan konsisten dalam nilai serta tindakan.
Nilai-nilai Pedagogis
QS Ash-Shaff ayat 2-3 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Kejujuran (Shidq). Ayat ini menekankan pentingnya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Dalam pendidikan, peserta didik harus dibiasakan berkata jujur dan tidak mengada-ada.
Karena itu guru tidak hanya menyampaikan nilai kejujuran, tetapi juga mempraktikkannya dalam pembelajaran dengan tepat waktu, dan menepati janji. Sehingga peserta didik meniru dan menanamkan nilai kejujuran dalam belajar dan bertanggung jawab atas kewajiban yang harus diselesaikannya.
Guru dan peserta didik harus konsisten dan mengatakan yang benar sesuai keadaan serta saling menyukseskan pendidikan dengan akhlak mulia.
Kedua, Nilai Integritas (Kesatuan Kata dan Perbuatan). Menjaga integritas merupakan inti dari ayat tersebut: bahwa tidak cukup hanya berkata baik, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Pendidikan harus membentuk pribadi yang konsisten diamalkan dalam kehidupan.
Integritas adalah keteguhan mempraktikkan apa yang diucapkan. Pesan ayat ini dalam Al-Qur’an menuntun guru dan peserta didik menjadi pribadi amanah, konsisten, dan dapat dipercaya sebagai fondasi utama pendidikan karakter.
Guru dan peserta didik yang menjaga nilai integritas mereka akan taat pada aturan, menjalankan kewajiban yang benar dan bertanggung jawab.
Ketiga, Nilai Keteladanan (Uswah Hasanah). Ayat ini mengisyaratkan bahwa seseorang, terutama pendidik, harus menjadi teladan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi contoh dalam perilaku sehari-hari.
Nilai keteladanan berakar pada prinsip tidak mengatakan apa yang tidak dilakukan. Artinya, seseorang menjadi teladan bukan dari kata-kata saja, tetapi dari konsistensi perilakunya.
Dalam ayat ini, guru dan peserta didik dituntut menjadi pribadi yang hidup sesuai dengan nilai yang diucapkan, sehingga memberi pengaruh positif bagi lingkungan dan melahirkan generasi yan beriman, beramal shalih dan berkarakter mulia.
Keempat, Nilai Amanah dan Menepati Janji. Ayat ini menegur mereka yang berperilaku mengatakan sesuatu yang tidak dilakukan sebagai ciri kemunafikan. Ayat ini mendidik hamba-Nya agar amanah dan menepati janji kepada siapa pun.
Ayat ini menjadi dasar kuat bagi nilai amanah dan menepati janji bahwa setiap ucapan merupakan komitmen yang harus diwujudkan dalam tindakan.
Amanah dan menepati janji merupakan wujud nyata dari keselarasan antara ucapan dan tindakan. Ayat ini mendidik agar guru dan peserta didik menjadi pribadi yang dapat dipercaya, konsisten, dan bertanggung jawab, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang berintegritas.
Landasan Teoretis
Dalam perspektif pendidikan Islam, refleksi sejalan dengan konsep muhasabah, yaitu evaluasi diri yang berorientasi pada perbaikan amal dan kesesuaian antara ilmu, ucapan, dan tindakan. Proses ini menempatkan peserta didik dan pendidik sebagai subjek yang senantiasa menilai dirinya dalam bingkai nilai-nilai Ilahiah, sehingga pendidikan tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi etika dan spiritual.
Adapun Refleksi Hari Pendidikan dalam kerangka ini dapat dipahami sebagai momentum epistemologis dan aksiologis untuk meninjau kembali praksis pendidikan berdasarkan nilai integritas.
Dalam perspektif ini, pendidikan dipandang sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya (insan kāmil), di mana kesesuaian antara ilmu dan amal menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan.
Jika dikaitkan dengan nilai-nilai pendidikan nasional yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara, refleksi ini juga memperkuat dimensi pedagogis kepemimpinan pendidikan, yaitu: Ing Ngarso Sung Tulodo sebagai representasi integritas teladan pendidik, Ing Madyo Mangun Karso sebagai penguatan motivasi dan partisipasi aktif dalam proses belajar, Tut Wuri Handayani sebagai bentuk dukungan pedagogis yang membebaskan dan memberdayakan peserta didik.
Sebagaimana Allah telah memberikan alat untuk mewujudkan nilai integrasi guru dan peserta didik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendorong pendidikan yang berkualitas dari sejak lahir.
Allah SWT berfirman:
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl: 78)
Dalam Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an, disebutkan bahwa ketiga hal ini (pendengaran, penglihatan, dan hati) merupakan kunci bagi setiap ilmu. Seorang hamba tidaklah mendapatkan ilmu kecuali melalui salah satu pintu ini.
Tujuannya agar bersyukur dengan menggunakan pemberian itu untuk menunaikan ketaatan kepada Allah. Barangsiapa yang tidak menggunakan untuk berpikir mencari kebenaran atau untuk ketaatan kepada Allah, maka semua itu akan menjadi hujjah terhadapnya (berbalik menimpanya), dan sama saja membalas nikmat dengan keburukan.
Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab moral dan spiritual, bukan sekadar transfer ilmu. Dalam refleksi Hari Pendidikan, ayat ini menjadi landasan bahwa integritas dalam pendidikan lahir dari kesadaran bahwa ilmu merupakan nikmat yang harus dipertanggungjawabkan secara moral dan spiritual.
Ini menjadi kesempatan bagi para pendidik, siswa, dan seluruh masyarakat untuk merenungkan kembali arti penting pendidikan bagi individu dan bangsa.
Melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional, diharapkan tercipta generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga memiliki kecerdasan emosional, spiritual, dan sosial, sehingga mampu membangun integritas pendidik dan peserta didik dalam segala hal.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ
“Barangsiapa hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu.” (HR Ahmad)
Pendidik harus mengajarkan akhlak mulia dan berbuat baik kepada peserta didik. Pendidik juga senantiasa mengembangkan kemampuannya dengan terus belajar dan mengamalkan pembelajaran kepada peserta didik dengan penuh kasih sayang, sabar dan penuh semangat. Adapun peserta didik harus tekun dalam belajar dan menghormati guru-guru yang telah mendidiknya sehingga ilmu yang diperoleh mendapat keberkahan, bermanfaat dan mengubah dirinya menjadi anak yang cerdas serta berakhlak mulia karena mampu membedakan mana yang salah dan benar.
Rasulullah SAW bersabda:
تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ
“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)
Momentum Hari Pendidikan harus dimaknai sebagai gerakan perubahan dalam membangun pendidikan yang berkarakter dan menanamkan bahwa ilmu amanah dari Allah. Dengan demikian, pendidikan dalam Islam tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi dalam diri peserta didik dan juga pendidik. Oleh karena itu, pendidik dan peserta didik harus bertekad memperbaiki keadaan.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’du: 11)
Cara Membangun Integritas
Lalu bagaimana cara membangun integritas pendidik dan peserta didik melalui refleksi hari Pendidikan? Pertama, Senantiasa berkata jujur. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا
“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur.” (HR Bukhari)
Kedua, Muhasabah dan mengevaluasi diri. Hari pendidikan menjadi kesempatan bagi para pendidik, siswa, dan seluruh masyarakat untuk merenungkan kembali arti penting pendidikan. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ketiga, Bertanggung jawab atas amanah yang dipikul. Allah SWT berfirman:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS Al-Ahzab: 72)
Keempat, Pendidik dan peserta didik harus menunjukkan keteladanan dalam belajar dan mengajar. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)
Kelima, Istiqamah. Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Perbuatan baik yang paling dicintai Allah Ta’ala yaitu yang paling konsisten (istiqamah) meskipun sedikit.” (HR Muslim)
Adapun pemaknaan istiqamah menurut Sayyid Murtadha Az-Zabidi menekankan pada dua pilar utama, yaitu konsistensi (tsabat) dan keseimbangan (i’tidal). Menurutnya, hakikat istiqamah adalah kemampuan untuk tetap konsisten dan teguh dalam pendirian, sembari menjaga keseimbangan sisi yang berlebihan.
Kisah Teladan
Rasulullah SAW merupakan contoh tertinggi dalam integritas pendidikan. Rasulullah SAW mendidik untuk tidak berbohong, bahkan dalam hal kecil. Suatu ketika, beliau melihat seorang ibu memanggil anaknya dan berjanji memberinya sesuatu, namun ternyata ia tidak berniat memberikannya. Rasulullah SAW menegur tindakan tersebut karena mengajarkan ketidakjujuran pada anak.
Karena itu, jika ada anggota keluarga yang berbohong, Rasulullah SAW akan memalingkan diri (mendiamkan) orang tersebut hingga ia benar-benar bertobat. Ini menunjukkan pendidikan karakter lebih utama daripada sekadar hukuman fisik.
Integritas lain yang ditampakkan Rasulullah SAW yaitu integritas dalam pengasuhan. Selama sepuluh tahun, Rasulullah tidak pernah memarahi atau menyalahkan Anas, meskipun ia lalai dalam tugasnya. Rasulullah menunjukkan bahwa integritas dalam mendidik tidak harus dengan kekerasan, melainkan dengan kasih sayang dan nasihat yang lembut.
Nilai utama integritas dalam pendidikan Islam yaitu jujur dan dapat dipercaya. Kemudian konsistensi antara ilmu dan amal. Serta memberikan keteladanan. Pendidik harus menjadi teladan karakter, bukan hanya pengajar ilmu namun menanamkan karakter. Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam pendidikan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali ‘Imran: 8) []




















