Landasan Teologis
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah-lah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)
Asbabunnuzul
Dalam Tafsir Al-Baghawi dijelaskan, sebagian besar ahli tafsir mengatakan: ayat ini turun berkenaan dengan ‘Auf bin Malik Al-Asyja‘i. Kaum musyrik menawan anaknya yang bernama Malik. Lalu ia datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, musuh telah menawan anakku,” dan ia juga mengadukan kemiskinannya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah, bersabarlah, dan perbanyaklah membaca: laa haula wa laa quwwata illa billah.” Orang itu pun melakukannya. Ketika ia berada di rumahnya, tiba-tiba anaknya datang kepadanya setelah musuh lengah darinya. Ia membawa empat ribu ekor kambing dan diserahkan kepada ayahnya.
Maka turunlah ayat ini: ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar,” berkaitan dengan anaknya tersebut.
Inti Reflektif
Surat At-Thalaq ayat 2–3 menegaskan bahwa rezeki bukan semata hasil usaha manusia, tetapi sangat terkait dengan kualitas ketakwaan kepada Allah. Ayat ini memberikan pemahaman bahwa ada tingkatan rezeki yang diberikan sesuai dengan kedekatan seorang hamba kepada-Nya.
Pertama, rezeki pada tingkat dasar yaitu hasil dari usaha lahiriah manusia. Setiap orang yang bekerja akan mendapatkan balasan sesuai ikhtiarnya. Namun, ayat ini mengangkat kita pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu rezeki yang datang karena ketakwaan.
Kedua, terdapat rezeki yang bersifat tak terduga. Ini bentuk karunia ilahi yang melampaui logika manusia. Seseorang bisa mendapatkan kemudahan, peluang, atau pertolongan tanpa perencanaan sebelumnya.
Ketiga, tingkatan tertinggi yaitu rezeki berupa ketenangan dan kecukupan hati. Allah menegaskan bahwa siapa yang bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya.
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir As-Sa’di menyebutkan, ayat ini berkaitan dengan talak dan rujuk, namun pelajarannya berlaku umum. Setiap orang yang bertakwa kepada Allah dan senantiasa mencari keridhaan-Nya dalam segala keadaan, maka Allah akan memberinya balasan di dunia dan akhirat. Ayat ini mengingatkan bahwa perceraian bisa menimbulkan kesempitan, kesedihan, dan kegelisahan, maka Allah memerintahkan untuk bertakwa. Barangsiapa bertakwa kepada-Nya dalam urusan talak maupun lainnya, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan kelapangan.
Di antara balasan itu yaitu Allah akan memberinya jalan keluar dan kemudahan dari setiap kesulitan. Sebaliknya, orang yang tidak bertakwa akan terjerumus dalam kesulitan, beban berat, dan belenggu yang tidak mampu ia lepaskan.
Makna firman Allah “Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” yaitu Allah memberikan rezeki kepada orang yang bertakwa dari jalan yang tidak ia perkirakan dan tidak ia sadari.
Sedangkan Tafsir Al-Baghawi menyebutkan, makna firman Allah “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” yaitu dari harta kambing yang ia bawa.
Muqatil berkata: Ia memperoleh kambing dan harta benda, kemudian kembali kepada ayahnya. Lalu ayahnya pergi menemui Nabi SAW, menceritakan kejadian itu, dan bertanya: “Apakah halal baginya memakan apa yang dibawa oleh anaknya?” Maka Nabi SAW menjawab: “Ya.” Lalu Allah menurunkan ayat ini.
Ibnu Mas‘ud berkata: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar”, maksudnya: ia mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah dan bahwa Allah-lah yang memberinya rezeki.
Ar-Rabi‘ bin Khutsaim berkata: “Dia akan memberinya jalan keluar” yaitu dari segala sesuatu yang menyempitkan manusia.
Abu Al-‘Aliyah berkata: “Jalan keluar” dari setiap kesulitan.
Al-Hasan berkata: “Jalan keluar” dari apa yang dilarang oleh Allah.
Sementara itu Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, makna ayat “Dari arah yang tidak disangka-sangka” maksudnya Allah memberkahi apa yang telah diberikan kepadanya.
Berkata Sahl bin ‘Abdullah: Barangsiapa bertakwa kepada Allah dalam mengikuti sunnah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dari hukuman ahli bid‘ah, dan memberinya rezeki berupa surga dari arah yang tidak disangka-sangka.
Berkata ‘Umar bin ‘Utsman ash-Shadafi: Barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan berhenti pada batas-batas-Nya dan menjauhi maksiat, maka Allah akan mengeluarkannya dari yang haram menuju yang halal, dari kesempitan menuju kelapangan, dan dari neraka menuju surga. Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak ia harapkan.
Berkata Ibnu ‘Uyainah: Maksudnya keberkahan dalam rezeki.
Tafsir At-Thabari menyebutkan, makna firman-Nya: “Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. Maksudnya: Allah memudahkan baginya sebab-sebab rezeki dari arah yang tidak ia sadari dan tidak ia ketahui.
Adapun makna firman Allah “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar”, yaitu ia mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah, dan bahwa Allah-lah yang memberi dan menahan. Dan ‘memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka’ yaitu dari arah yang tidak ia ketahui.”
Adapun makna firman-Nya “Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya”. Maksudnya: Allah pasti menunaikan ketetapan-Nya dalam segala keadaan, baik seseorang bertawakal maupun tidak. Namun, orang yang bertawakal memiliki kelebihan: dosa-dosanya dihapus dan pahalanya dilipatgandakan.
Makna firman-Nya “Sungguh Allah telah menjadikan bagi setiap sesuatu ukuran,” maksudnya: Allah menetapkan batas, waktu, dan ukuran bagi segala sesuatu.
Nilai-Nilai Pedagogis
Surat At-Thalaq ayat 2–3 mengandung nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Ketakwaan. Ayat ini mendorong manusia untuk selalu taat dan bertakwa kepada Allah dalam segala kondisi. Menjadikan ketakwaan sebagai landasan utama dalam mengambil keputusan, termasuk dalam masalah keluarga. Oleh karena itu, kita harus menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya karena Allah ta’ala serta bersikap jujur, amanah, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dan ajarilah anak-anak sejak dini agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa dan beramal shalih.
Kedua, Nilai Optimisme dan Harapan. Ayat ini mengajarkan bahwa setiap masalah pasti ada solusi dari Allah. Janganlah kita bersikap putus asa dalam menghadapi kesulitan hidup karena setelah kesulitan ada kemudahan. Maka kita harus tetap berusaha dan berdoa saat menghadapi masalah, berpikir positif terhadap takdir Allah, tenang dan yakin dapat melewati semua masalah yang dihadapi. Didiklah anak-anak untuk selalu optimis dan semangat dalam melewati semua yang terjadi. Ajarkanlah nilai-nilai hikmah yang dapat dijadikan pelajaran agar anak-anak paham dan meniru orangtuanya. Sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia dan optimis.
Ketiga, Nilai Tawakal (Berserah Diri kepada Allah). Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara usaha dan berserah diri kepada Allah serta menumbuhkan ketenangan batin karena percaya pada ketentuan-Nya. Marilah kita berusaha maksimal, berdoa kepada Allah lalu menyerahkan hasil kepada Allah dengan bertawakal, tidak gelisah berlebihan terhadap masa depan dan menerima segala ketentuannya. Guru dan orangtua harus mendidik anak-anak agar mereka rajin berusaha, berdoa dan bertawakal kepada Allah. Sehingga mereka tumbuh menjadi orang yang taat kepada Allah dan menerima segala takdir yang Allah berikan.
Keempat, Nilai Keyakinan terhadap Rezeki Allah. Ayat ini menanamkan keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah, bukan semata-mata dari usaha manusia. Menghindari sikap putus asa atau mencari rezeki dengan cara yang tidak halal. Oleh karena itu, kita sebagai hamba Allah harus menjemput rezeki dengan cara yang halal, baik dan jujur, yakin bahwa Allah memiliki banyak cara memberi rezeki. Yakinlah bahwa rezeki tidak hanya dari pekerjaan tapi dari Allah dengan cara yang tidak disangka dan rezeki yang tidak terhitung. Sehingga kita akan menjadi pribadi yang bersyukur, tenang, taat kepada Allah dan tidak takut akan dunia.
Landasan Teoretis
Rezeki dalam Islam merupakan segala bentuk karunia, manfaat, dan pemberian dari Allah SWT, baik materi seperti uang dan makanan, maupun nonmateri seperti kesehatan, iman, ilmu dan keluarga yang ditujukan untuk mendukung kehidupan dan ibadah setiap makhluk. Rezeki dijamin oleh Allah, tidak terbatas pada gaji, dan mencakup semua hal yang halal dan membawa keberkahan.
Allah memberikan rezeki kepada hamba-Nya dengan berbagai macam jenis dan cara. Sehingga pemberian Allah melebihi apa yang diminta hamba-Nya. Bahkan sering Allah Yang Maha Dermawan memberikan anugerah-Nya tanpa diminta oleh hamba-Nya. Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS Hud: 6)
Rezeki memiliki beberapa tingkatan, dengan memahami tingkatan rezeki membantu kita menyadari bahwa rezeki tidak terbatas pada materi, melainkan mencakup kesehatan, ilmu, hingga ketenangan jiwa.
Menurut Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi, rezeki terbagi menjadi empat tingkatan: 1) Harta (paling rendah), 2) Kesehatan (tinggi), 3) Anak/keluarga shalih (utama), dan 4) Ridha Allah (paling sempurna).
Pertama, rezeki harta. Rezeki berupa harta benda dalan tingkatan dasar, sehingga semua orang bisa meraih rezeki tersebut. Baik itu hamba yang taat maupun yang ingkar. Kedua, rezeki kesehatan. Kesehatan masuk dalam rezeki yang luhur. Karena kesehatan sangatlah mahal. Orang bisa saja miskin harta benda, akan tetapi jika badannya sehat, maka ia akan lebih bebas dan merdeka. Ketiga, rezeki keturunan shalih. Anak yang shalih masuk ke dalam rezeki yang utama, karena tidak semua orang bisa mendidik anak-anaknya menjadi shalih atau shalihah. Keempat, rezeki berupa ridha Allah SWT. Rezeki berupa ridha Allah merupakan sempurnanya rezeki. Karena tidak semua makhluk Allah mendapatkan ridha-Nya. Ridha Allah hanya diberikan kepada hamba yang taat kepada-Nya.
Oleh karena itu, senantiasalah kita minta kelapangan, pekerjaan yang baik dan halal, keluarga yang haramonis, kesehatan, ilmu, rezeki harta yang berlimpah dan berkah, keturunan yang shalih, hati yang tenang dan meminta rahmat dan ridha Allah. Karena Allah Maha Segala dan mudah bagi Allah menjadikan hamba yang lapang atau sempit. Allah SWT berfirman:
اِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُۗ اِنَّهٗ كَانَ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرًا ۢ بَصِيْرًاࣖ
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (-nya bagi siapa yang Dia kehendaki). Sesungguhnya Dia Mahateliti lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Isra’: 30)
Cara Menjaga dan Mendatangkan Rezeki yang Berlimpah
Lalu bagaimana cara menjaga dan mendatangkan rezeki yang berlimpah? Pertama, Rajin bersyukur. Allah SWT berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras’.” (QS Ibrahim: 7)
Kedua, Bertakwa dan bertawakal. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ٢وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 2-3)
Ketiga, Senang bersilaturahmi. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi’.” (HR Bukhari)
Keempat, Memperbanhyak istighfar. Allah SWT berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ ١٠يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ١١وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ ١٢
“Lalu, aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu’.” (QS Nuh: 10-12)
Kelima, Senang berinfak. Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS Saba’: 39)
Keenam, Menjemput rezeki dari Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ
“Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS Maryam: 25)
Kisah Teladan
Dikisahkan dalam kitab Qashashus Shahabati was Shalihin karya Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi, Urwah bin Udzainah pernah hidup dalam kesulitan ekonomi saat berada di Madinah. Melihat kondisinya, orang-orang di sekitarnya menyarankan agar ia menemui Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, sahabat lamanya. Mereka berkata: “Engkau memiliki hubungan baik dengan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah. Pergilah untuk menemuinya, niscaya engkau akan mendapatkan kebaikan dari kekhalifahannya.”
Mendengar saran itu, Ibnu Udzainah pun berangkat menuju Syam. Setibanya di istana, ia disambut dengan hangat oleh sang khalifah. Ketika ditanya bagaimana keadaannya, Ibnu Udzainah menjawab jujur bahwa ia sedang mengalami kesempitan. Mendengar itu, Khalifah Hisyam tersenyum dan mengingatkannya pada bait syair terkenal gubahan sahabatnya itu sendiri:
لَقَدْ عَلِمْتُ وَمَا الْإِسْرَافُ مِنْ خُلُقِي * أَنَّ الَّذِي هُوَ رِزْقِي سَوْفَ يَأْتِينِي
“Sungguh aku mengetahui dan boros bukanlah tabiatku * bahwa rezekiku pasti akan datang menghampiriku.”
Kata-kata itu seketika menyentak hati Ibnu Udzainah. Ia sadar bahkan dalam kesulitan pun dirinya sedang diuji untuk percaya pada kalimat yang pernah ia ucapkan sendiri.
Merasa cukup diingatkan, Ibnu Udzainah berpamitan dengan penuh hormat. “Semoga Allah membalas kebaikanmu, wahai Amirul Mukminin. Engkau telah mengingatkanku saat aku lupa, dan menegurku saat aku lalai,” ujarnya sebelum meninggalkan istana.
Namun setelah kepergian sahabatnya, Khalifah Hisyam menyesal. Ia merasa telah menyakiti hati seseorang yang datang dengan penuh harapan. Sang khalifah lalu memerintahkan pengawalnya menyusul Ibnu Udzainah untuk menyampaikan permintaan maaf dan hadiah sebagai tanda penyesalan.
Utusan khalifah mencari ke berbagai tempat, namun setiap kali tiba, Ibnu Udzainah sudah berpindah. Setelah perjalanan panjang, akhirnya ia tiba di rumah sang sahabat di Madinah dan mengetuk pintu seraya berkata: “Amirul Mukminin menyesal atas sikapnya. Ini ada hadiah-hadiah darinya untukmu.”
Mendengar itu, Ibnu Udzainah tersenyum dan spontan melanjutkan syairnya dengan bait baru yang tak kalah indah:
أَسْعَى لَهُ فَيُعَنِّينِي طَلَبُهُ * وَلَوْ قَعَدْتُ أَتَانِي لَا يُعَنِّينِي
“Aku berusaha mengejarnya, maka justru ia menyusahkanku * Namun jika aku duduk diam, ia datang kepadaku tanpa memberatkanku.”
Bait ini menjadi pelengkap makna: bahwa rezeki tidak selalu hadir karena kerasnya usaha, melainkan karena ikhlas dan tawakal setelah berikhtiar.
Kisah ini mengingatkan bahwa rezeki seringkali datang saat hati tidak lagi menggantungkan diri pada manusia, melainkan sepenuhnya kepada Allah.
Ketika ikhtiar sudah dilakukan dan hati berserah diri, Allah menghadirkan rezeki dari arah yang tak pernah disangka—seperti hadiah yang menghampiri Ibnu Udzainah setelah ia pulang dengan tangan kosong tapi hati penuh keyakinan.
Rezeki tidak pernah tersesat. Ia tahu kepada siapa ia harus datang. Oleh karena itu, janganlah kita khawatir terhadap dunia tapi khawatirlah saat kita jauh dari Allah, Sang Pemilik Segala. Jika kita yakin kepada Allah, Allah pun akan mengirimkan berbagai rezeki yang tiada tersangka sebagai balasan hamba yang bertawakal.
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki-Mu yang halal hingga aku terhindar dari yang haram. Jadikanlah aku kaya dengan karunia-Mu hingga aku tidak meminta kepada selain-Mu.” (HR Tirmidzi No. 3563)




















