Generasi yang berakhlak menjadi ukuran eksistensi (keberadaan) suatu bangsa. Suatu bangsa akan jatuh, jika hilang akhlaknya (tindak korupsi, praktik bisnis yang tidak beretika, kekerasan, dan kemaksiatan lainnya). Semua itu cerminan dari kualitas pendidikan.
“Degradasi atau kemerosotan moral itu menurut saya berawal dari konsep pendidikan itu sendiri,” terang Prof Dr Mochlasin MAg, Guru Besar bidang Ekonomi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, minat Etika Bisnis Islam.
Adanya pergeseran orientasi pendidikan, lanjut alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1992 itu, mengarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat kapitalistik (hanya bersifat materi).
Menanggapi fenomena tersebut, Reporter Majalah Gontor, Edithya Miranti, mencoba untuk mengulik lebih dalam khususnya terkait konsep dan adab dalam dunia pendidikan bersama Dewan Pengurus Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam sekaligus Narasumber Kajian Tafsir di Masjid Al Furqon dan Al Huda, Godean, Sleman, itu. Berikut kutipannya:
Menurut Anda, apa yang dimaksud dengan pendidikan dan apa saja fenomena yang menunjukkan lunturnya adab dalam dunia pendidikan saat ini?
Pendidikan dalam bahasa literasi Islam disebut at-tarbiyah. Berasal dari kata “raba” yang artinya berkembang atau mengembangkan tiga potensi yang ada pada manusia yakni potensi intelektualitas, jiwa, dan fisik. Tiga hal itulah yang menjadi konsen dari pendidikan.
Fenomena lunturnya adab yang sering terjadi di dunia pendidikan di Indonesia secara umum saat ini ialah tawuran, kekerasan murid terhadap guru, maraknya jual kunci jawaban dalam ujian, juga praktik mencontek yang menunjukkan tidak adanya rasa malu ataupun takut yang dimiliki siswa.
Bagaimana pengaruh media sosial terhadap sikap dan perilaku siswa?
Manusia itu makhluk yang sangat dinamis. Dengan akal yang telah Allah karuniakan untuk bisa berpikir mengembangkan berbagai hal, termasuk teknologi di antaranya medsos. Sebagai sesuatu yang baru dalam peradaban umat manusia, hal ini akan selalu mempengaruhi perilaku siswa. Apalagi pada medsos itu ada hal negatif dan positif. Maka, menurut saya kembali kepada kematangan siswa. Jika siswa sudah memiliki jiwa yang matang melalui pendidikan tadi, maka dia bisa memilah dan memilih mana yang baik bagi dirinya.
Maka, bekal pendidikan yang baik dimulai dari keluarga, kemudian sekolah, dan lingkungan. Dulu dikenal sebagai trilogi yang sekarang ini sepertinya luntur. Tiga ranah itu harus bersinergi, sehingga siswa akan mendapatkan lingkungan atau tempat yang baik untuk tumbuh dan berkembang, sesuai dengan ajaran-ajaran pendidikan yang baik.
Lantas apa saja upaya yang dapat kita lakukan untuk mengatasi degradasi moral generasi muda?
Degradasi atau kemerosotan moral itu menurut saya berawal dari konsep pendidikan itu sendiri. Saya melihat saat ini secara filosofis maupun orientasi pendidikan itu sudah bergeser, sehingga menyebabkan adanya kemerosotan moral.
Secara filosofis bahwa dunia pendidikan tidak lagi menyiapkan atau membimbing tiga hal (intelektual, fisik, dan jiwa) tadi. Tapi pendidikan sudah bergeser sebagai transfer of knowledge. Jadi transfer ilmu pengetahuan saja.
Kemudian juga orientasi yang ada di dunia pendidikan sekarang itu sangat dangkal (sulit mencari pekerjaan, ingin diakui). Sehingga etika ataupun adab yang sebenarnya masuk di dalam pendidikan mengalami pengikisan dan nilainya menjadi sangat rendah sekali.
Pendidikan kemudian tidak bisa mengembangkan etika atau adab dan menyebabkan generasi muda menjadi sangat lemah secara filosofi. Kemudian orientasinya yang sangat dangkal, sangat memudahkan siswa mengalami guncangan, stres, juga tidak bisa menunjukkan jati diri yang baik (berkualitas).
Mengapa keluarga dianggap sebagai madrasah pertama adab?
Dalam konsep Islam seorang anak itu memiliki dua hal, yaitu jiwa dan fisik. Maka dalam konsep Islam, pendidikan itu telah dimulai sejak anak di alam kandungan. Jadi itu sangat berpengaruh sekali, dan keluarga itu utamanya ibu disebut sebagai madrasah al-ula (sekolah pertama). Madrasah pertama ini sangat penting sekali untuk bisa melahirkan generasi yang berkualitas (beradab). Maka, sejak mengandung seorang ibu juga harus bisa menata jiwa, emosi, kemudian berdoa, berikhtiar secara fisik supaya dia sehat, sampai kemudian melahirkan.
Setelah itu, peran keluarga terutama orangtua sangatlah penting. Tentunya untuk mengembangkan, mendidik, dan mempersiapkan anak menjadi generasi yang baik. Karena orangtualah yang meletakkan nilai-nilai dasar pendidikan, agama, kematangan sosial, kemudian dalam kode etik yang umum (adab, sopan santun dan seterusnya), sampai memilih lembaga pendidikan yang baik.
Mohon dijelaskan apa yang dimaksud dengan “Adab sebelum ilmu“?
Konsep ilmu dalam Islam menurut Imam Syafi’i ialah cahaya yang memancar. Imam Syafi’i juga memberi nasihat bahwa cara untuk menghilangkan kesulitan menghafal ialah harus meninggalkan kemaksiatan. Artinya ilmu itu ibarat cahaya (hal yang suci) dan harus dicari dengan cara yang baik, serta tidak diperuntukkan kepada ahli maksiat. Itulah pentingnya adab, etika, dan etos. Sebagaimana Imam Syafi’i juga mengatakan bahwa ilmu tidak didapat kecuali dengan enam hal yakni kecerdasan, sifat tamak terhadap ilmu, bersungguh-sungguh, harta yang harus disiapkan, membersamai guru, dan belajar sepanjang zaman.
Apa pendapat Anda terkait pernyataan bahwa guru sebagai pendidik dan teladan, bukan sekadar pengajar?
Sebagaimana konsep ilmu dalam Islam yakni ilmu itu cahaya, kesucian, dan anugerah dari Allah SWT yang didapat dengan cara yang terbaik, maka dibutuhkan pengajar yang beradab. Dalam dunia pendidikan, Islam membedakan antara pengajar (mudarris) dan pendidik (murabbi). Seorang murabbi tidak hanya sekadar transfer of knowledge (mengajar), tapi juga mendidik. Karena di dalam konsep pendidikan itu at-tarbiyah (mengembangkan juga mengarahkan pengembangan intelektualitas, visi, dan jiwa). Karena itu, seorang murabbi harus beradab.
Dunia pendidikan Islam turut memperhatikan soal pengembangan jiwa (berakhlak mulia) dengan merujuk kepada sosok murabbi yang agung, yaitu Nabi Muhammad SAW yang diutus ke muka bumi utamanya untuk mengajarkan akhlak mulia. Inilah ruh dalam dunia pendidikan dan menjadi ruh bagi seorang pendidik. Seperti yang sering ditekankan di Pondok Gontor bahwa semua yang dialami oleh santri itu merupakan pendidikan dan semua guru merupakan murabbi yang memastikan semua santri berakhlak mulia.
Menyikapi adanya kasus relasi guru dengan murid yang semakin renggang, menurut Anda bagaimana seharusnya hubungan antara guru dan peserta didik dalam konteks pendidikan adab?
Konsep ilmu itu ibadah, namun saat ini adanya pergeseran orientasi pendidikan mengarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat kapitalistik (hanya bersifat materi). Maka cara untuk kembali membangunnya yaitu dengan suhbatul ustadz (membangun hubungan kedekatan antara murid dan guru).
Di mana pun kita mencari ilmu, selama itu baik, maka carilah ridha guru. Demikian juga guru murabbi akan maksimal mengajar dalam rangka ibadah, tidak hanya untuk mendapat pujian atau gaji. Jadi nilainya akan lebih bermakna karena orientasinya ibadah. Bahkan di dalam Hadis disebutkan, “Barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka dia berjuang di jalan Allah.” Demikian kiranya cara membangun hubungan yang baik antara guru dan murid. Sehingga tidak hanya transfer of knowledge, tapi juga transfer etik antara guru dan murid.
Apa harapan dan pesan Anda kepada generasi muda, khususnya para peserta didik, agar tetap bisa menjadi pribadi yang beradab ke depan?
Penyiapan generasi yang beradab itu sangat penting untuk menghadapi berbagai tantangan. Maka perlu disiapkan sistem pendidikan yang baik, dengan proses yang beradab, dan juga didasarkan kepada prinsip-prinsip Islam. Sebagaimana menjadikan pendidikan itu dalam rangka untuk beribadah kepada Allah dan tujuannya mencari ridha Allah.
Generasi yang berakhlak itu sejatinya menjadi ukuran tentang eksistensi suatu bangsa. Suatu bangsa pun akan jatuh, jika hilang akhlaknya, seperti tindak korupsi, praktik bisnis yang tidak beretika, kekerasan, kemudian kemaksiatan, semua itu cerminan dari kualitas pendidikan. Maka, kita harus kembali tidak hanya ta’lim tapi juga tarbiyah. Tidak hanya sekadar transfer ilmu, tapi juga membangun adab dengan mengembangkan tiga potensi: intelektualitas, fisik, dan jiwa, terutama jiwa spiritual agar memiliki kematangan dan berakhlak baik. []





















