Bogor, Gontornews – Memasuki transisi krusial menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, SMPIT Insantama Leuwiliang membekali para siswa dan siswi kelas 9 melalui kegiatan “Pesantren Wisuda”. Acara intensif ini berlangsung selama tiga hari, 2 – 4 Juni 2026, di kawasan wisata alam Gunung Salak Endah, Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan berbagai materi strategis yang disampaikan langsung oleh jajaran guru, pengurus yayasan, wali murid, hingga alumni. Program ini dirancang khusus sebagai upaya sekolah untuk membentuk mentalitas sukses dan tangguh bagi alumni sebelum mereka tersebar ke berbagai sekolah lanjutan, madrasah, atau pesantren.
Kehadiran alumni menjadi salah satu daya tarik utama untuk memberikan gambaran nyata tentang dunia setelah SMP. Ahmad Aminuddin Shidiq, alumni angkatan pertama SMPIT Insantama Leuwiliang yang saat ini menempuh studi di IPB University, membagikan pengalamannya mengenai dinamika dunia kampus yang jauh lebih kompleks.
“Lingkungan akademik perkuliahan lebih diverse dibandingkan SMA, banyak teman dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ini membuat saya melihat ada gap akibat banyak materi yang belum saya kuasai di SMA, sementara teman di perkuliahan sudah lebih paham,” ungkap Aminuddin.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya sikap pantang menyerah. “Kita harus lebih fokus pada mengejar ketertinggalan meskipun sedikit demi sedikit, karena konsistensi lebih penting daripada titik awal,” tambahnya memotivasi para yuniornya.
Inspirasi juga datang dari alumni angkatan kelima yang saat ini duduk di kelas 11 SMAN Leuwiliang, yakni Aqilah Fawziyyah Lubnaa dan Daffah Syamila Rusydi. Keduanya tampil kompak membawakan presentasi interaktif bertajuk “High School Should Be Fun”.
Dalam sesinya, Lubnaa menyoroti tantangan pergaulan remaja masa kini dan mendorong para siswa untuk berani memegang teguh nilai-nilai Islam tanpa rasa minder.
“Agak miris kalau melihat anak-anak toxic berani bangga dengan lingkaran buruk mereka. Masa kita yang membawa nilai-nilai kebenaran dari Islam malah minder? Kita anak muda harus berdaya, ambil semua opportunity yang ada di SMA untuk melatih kepemimpinan dan mental. Jangan tunggu lingkungan jadi baik baru kita ikut baik. Kalau lingkungannya belum ideal, kitalah yang harus jadi pencipta gelombang kebaikan itu. Don’t just join the wave, be the wave maker!” seru Lubnaa dengan penuh semangat.
Senada dengan Lubnaa, Daffah Syamila Rusydi—atau yang akrab disapa Mila—mengingatkan para adik kelasnya agar tidak goyah ketika dihadapkan pada banyak pilihan hidup di masa SMA nanti. Menurutnya, melibatkan Allah dalam setiap langkah adalah kunci utama kebahagiaan dan kesuksesan.
“Jangan pernah takut untuk memilih Islam dan menyebarkannya. Raihlah semua kesempatan tanpa mengabaikan dan mengakali aturan Allah. Everything gonna be fine. Semua kesempatan akan selalu menemukan jalannya,” tutur Mila.

Ia menutup pesannya dengan kalimat menyentuh, “Maka dari itu bermimpilah, berjuanglah, dan raihlah semuanya tanpa mengesampingkan Allah. Involve Allah in every single path.”
Melalui kegiatan Pesantren Wisuda ini, SMPIT Insantama Leuwiliang berharap para lulusannya tidak hanya unggul secara akademik saat memasuki SMA, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kepemimpinan yang matang, serta fondasi spiritual yang kokoh untuk menghadapi tantangan zaman. []


















