Bogor, Gontornews – Mencegah lebih baik daripada mengobati. Prinsip inilah yang menjadi semangat SDIT Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, dalam membekali peserta didik menghadapi berbagai tantangan zaman. Sebagai bagian dari rangkaian Pekan Ta’aruf Tahun Pelajaran 2026/2027, seluruh siswa kelas VI mengikuti Penyuluhan Bahaya Narkoba, Rokok, Vape, dan Pergaulan Bebas di Aula Masjid Al Haris lantai 1, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan edukatif ini menghadirkan Babinsa Kecamatan Leuwiliang, Pelda Jumadi Antoro, sebagai narasumber. Melalui penyampaian yang komunikatif, interaktif, dan disertai berbagai contoh nyata, para siswa diajak memahami dampak buruk penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan, prestasi, kehidupan keluarga, hingga masa depan.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman bahwa rokok dan vape bukanlah simbol kedewasaan, melainkan kebiasaan yang dapat menjadi pintu masuk menuju perilaku berisiko.
Pelda Antoro menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkoba umumnya berawal dari rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, serta lemahnya kemampuan seseorang dalam menolak ajakan yang salah. Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh siswa untuk memperkuat keimanan, memilih lingkungan pergaulan yang positif, serta mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
“Generasi muda harus berani mengatakan tidak terhadap narkoba. Masa depan kalian terlalu berharga untuk dirusak oleh kenikmatan sesaat yang justru berujung pada penyesalan. Pilihlah teman yang membawa kepada kebaikan, hormati orang tua dan guru, serta jadikan ilmu dan ibadah sebagai bekal menghadapi kehidupan,” pesannya di hadapan para siswa dan guru kelas VI dan pengurus yayasan.
Suasana penyuluhan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Para siswa aktif mengikuti sesi tanya jawab, mengajukan berbagai pertanyaan mengenai bahaya narkoba, cara menghadapi tekanan dari teman sebaya, hingga langkah yang harus dilakukan apabila menemukan indikasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitar.
Dalam sesi penutup, Pelda Antoro menegaskan bahwa upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, keberhasilan membentengi generasi muda memerlukan sinergi antara sekolah, keluarga, dan peserta didik itu sendiri.
Karena itu Wakil Danramil Leuwiliang itu menyampaikan tiga langkah utama dalam mencegah penyalahgunaan narkoba, rokok, vape, dan perilaku menyimpang. Pertama, tumbuhkan kepedulian seluruh warga sekolah. Guru, tenaga kependidikan, dan teman sebaya perlu peka terhadap perubahan perilaku siswa serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh perhatian.
Kedua, peran orang tua menjadi kunci utama. Orang tua diharapkan terus membangun komunikasi yang hangat dengan anak, memberikan kasih sayang, pengawasan, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. “Keluarga merupakan benteng pertama dalam melindungi anak dari pengaruh negatif lingkungan,” tandasnya.
Ketiga, harus ada kemauan yang kuat dari dalam diri setiap individu untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tekad untuk menjaga diri, memilih pergaulan yang positif, memperkuat keimanan, serta berani menolak ajakan yang salah merupakan bekal penting dalam menghadapi tantangan zaman.
“Pencegahan terbaik dimulai dari kepedulian bersama. Ketika sekolah peduli, orang tua hadir mendampingi, dan anak memiliki kemauan untuk menjaga dirinya, in syaa Allah mereka akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, berkarakter, dan terhindar dari penyalahgunaan narkoba,” pungkasnya.
Sementara itu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SDIT Insantama Leuwiliang, Zaenal Mutakin SPdI, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembinaan karakter harus dimulai sejak usia dini agar peserta didik memiliki ketahanan diri dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif.
“Acara ini sengaja kami selenggarakan untuk memberikan pembekalan sejak dini tentang bahaya narkoba dan pergaulan bebas, termasuk di dalamnya bahaya rokok dan vape. Harapannya, siswa dan siswi mampu menjaga diri serta terhindar dari hal-hal yang dapat menghancurkan masa depan mereka. Kami ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan mampu berkata ‘tidak’ terhadap segala bentuk penyimpangan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, SDIT Insantama Leuwiliang berharap para siswa tidak hanya memahami bahaya narkoba secara teori, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga diri, mengambil keputusan yang benar, serta menjadi teladan bagi teman-temannya.

Penyuluhan ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen SDIT Insantama Leuwiliang dalam mewujudkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter islami. Pembinaan semacam ini diharapkan menjadi benteng yang kokoh bagi para siswa dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
“Generasi hebat bukanlah mereka yang sekadar cerdas, tetapi mereka yang mampu menjaga iman, akhlak, dan masa depannya dari segala bentuk kerusakan.” Itulah pesan yang ingin ditanamkan melalui kegiatan penyuluhan ini kepada seluruh peserta didik SDIT Insantama Leuwiliang. [Zaenal Mutakin]





















