Sumenep, Gontornews — Multaqa Ilmi dengan tema “Hoaks dan Fitnah Digital: Tantangan Akhlak Generasi Santri terselenggara dengan baik di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Menghadirkan seorang tokoh da’i internasional, Prof Dr KH Abdul Somad Lc DESA, acara itu pun sukses menarik antusias 2.834 peserta.
Kepada Gontornews.com Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA, Pimpinan Ponpes Al-Amien Prenduan menjelaskan bahwa seluruh peserta yang hadir santriwati dari lembaga-lembaga di bawah naungan Yayasan Al-Amien Prenduan, seperti TMI Al-Amien Prenduan, Ma’had Tahfizh Al-Qur’an Al-Amien Prenduan, Pondok Putri 1 Al-Amien Prenduan, dan Universitas Al-Amien Prenduan. Selain santriwati, hadir pula jajaran Dewan Pengasuh Putri dan para ustadzah.
Acara yang digelar pada Ahad (2/8/2026) dan bertempat di Gedung Serba Guna (Geserna) yang terletak di lokasi putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura.
Kiai Fauzi pun menjelaskan bahwa tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk membekali generasi santri dengan kemampuan literasi digital agar mampu memilah, memverifikasi, dan menyikapi informasi secara bijaksana sebelum menyebarkannya.
Dalam sambutannya, KH Fauzi menyampaikan, “Kita patut bersyukur, karena berkat rahmat dan kasih sayang dari Allah, kita bisa bertatap muka dengan seorang da’i internasional, yaitu Prof Dr KH Abdul Somad Lc DESA.” Semoga para santriwati di sini juga bisa menjadi da’i internasional, lanjut Kiai Fauzi, jika tidak dirinya mungkin anak-anaknya.
Pada momentum berharga tersebut, Prof Abdul Somad atau yang biasa dikenal sebagai Ustadz Abdul Somad (UAS) turut menyampaikan tausiyahnya bahwa kalau kita hidup ingin rukun, maka kita harus menjaga hati nurani.
“Bibit yang bagus kalau diletakkan di tanah yang tandus akan mati, kalau pun tumbuh, tumbuhnya tidak bagus. Tapi ada bibit yang kurang bagus, kalau tanahnya bagus, in syaa Allah akan menumbuhkan tanaman yang bagus. Dan tanah yang bagus itu adalah perempuan yang shalihah,” pesan sang guru besar.
Prof Abdul Somad lantas menegaskan kembali pesannya di hadapan para santri bahwa tempat yang paling nyaman di dunia adalah rahim seorang ibu. “Saat panas ia dingin, saat dingin ia panas,” tutupnya. [Edithya Miranti]






















