Jakarta, Gontornews—Siapa tak kenal dengan ulama besar yang cukup akrab bagi masyarakat Muslim Indonesia yang satu ini. Adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin yang acapkali menjadi rujukan penyelesaikan berbagai masalah agama belakangan ini.
Walaupun pendidikan formal terakhir adalah Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun Bogor yang dituntaskannya pada tahun 1967, atas peran dan jasa-jasa besarnya kepada umat dan masyarakat, Kiai kelahiran Tangerang 11 Maret 1943 ini memperoleh banyak penghargaan dari berbagai institusi.
Di antaranya karena kiprah dan karya-karya pemikirannya di bidang ekonomi syariah dan fatwa halal, cicit Syaikh Nawawi al-Bantani itu mendapat penilaian akademik yang tinggi dari salah satu kampus Islam ternama di ibu kota. Dalam hal ini Kiai Ma’ruf pada 5 Mei 2012 silam menerima penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dalam bidang Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Bukan hanya itu, karena kiprahnya di bidang ekonomi Islam pula, di umurnya yang ke 74 Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) diberi Penghargaan Tertinggi oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan resmi menyandang gelar Guru Besar atau Profesor berdasarkan Keputusan Menristekdikti No.69195/A2.3/KP/2017. Gelar tersebut resmi dikukuhkan pada rapat senat terbuka UIN Maulana Malik Ibrahim, hari ini Rabu (24/5).
Ketua Senat UIN Maliki Imam Suprayogo mengungkapkan penganugerahan gelar profesor tersebut adalah memberikan apresiasi dan penghormatan kepada salah seorang ulama besar Indonesia yang berkontribusi besar dalam bidang hukum ekonomi Islam. Dikatakannya, fatwa-fatwanya telah menjadi rujukan dalam ekonomi Islam baik nasional maupun internasional. “Atas dasar itu kami mengusulkan beliau ke Kemenag dan Kemenristekdikti untuk dianugerahi gelar sebagai guru besar,” katanya.
Sementara itu Rektor UIN Maliki, Prof Mudjia Rahardjo menyatakan Kiai Ma’ruf telah membimbing umat sehingga patut mendapatkan kehormatan tertinggi di bidang akademik itu. Kiai Ma’ruf pula, kata dia, juga getol mengembangkan gagasan, pemikiran, dan aksi Islam yang moderat dan ramah. “Beliau bukan hanya seorang intelektual, tetapi juga tempat rujukan masyarakat Muslim Indonesia,” tuturnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]

















