Jakarta, Gontornews — Umat Islam di seluruh Indonesia memiliki peranan yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejarah mencatat perjuangan umat Islam yang sangat kuat, baik dalam mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.
βSejarah mencatat fakta jika pesantren, para kiai, serta umat Islam bersatu padu menyelamatkan Indonesia dari penjajahan Belanda dan merebut kemerdekaan Indonesia,β ujar Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid MA dalam acara dialog kebangsaan kerjasama MPRΒ dan Panitia Peringatan 90 Tahun Gontor di Gedung MPR RI, Jakarta, Senin (8/8).
Pria yang menjabat Ketua MPR periode 2004-2009 ini mengungkapkan, ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, sesungguhnya Pancasilanya 22 Juni. Sila pertamanya, adalah βKetuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.β
Sila pertama ini kemudian berubah menjadi βKetuhanan yang maha esa.β Perubahan ini menjadi cerita yang menarik betapa negarawannya dan sangat cintanya tokoh-tokoh umat Islam termasuk KH Wahid Hasyim (NU), dan KH Bagus Hadikusumo (MD) bahwa Indonesia yang baru merdeka ini jangan berpecah belah.
βKarena dari Indonesia timur ada ancaman mereka tidak akan masuk wilayah Indonesia. Karena ulama kita sangat cinta Indonesia bahwa mereka menerima perubahan itu dalam rangka menghadirkan kemaslahatan yang tertinggi,β tuturnya.
Hidayat menegaskan, maksud dari teks Yang Maha Esa dalam Pancasila adalah Tauhid. Maka sejak dari awal Pancasila ini adalah bagian dari peran serta umat Islam, bersama umat dan tokoh yang lain agar Indonesia tetap menjadi NKRI dan Bhineka Tunggal Ika memberi ruang untuk menghadirkan kemajuan Indonesia.
Peranan ulama ini masih dibuktikan ketika Belanda membonceng sekutu pada tanggal 22 Oktober 1945, ada seorang tokoh pesantren KH Hasyim Asyβari mengumpulkan ulama kemudian membuat resolusi jihad yang isinya adalah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 hukumnya adalah fardhu ain bagi masyarakat di sekitar Surabaya.
Bagi siapa yang tinggal di luar itu, lanjutnya, hukumnya fardhu kifayah. Bagi siapa yang berjihad di jalan Allah mempertahankan Indonesia maka ia mati syahid. Kemudian tanggal 3 November 1945 umat Islam berkumpul di Jogjakarta melakukan kongres umat Islam yang di antaraya memutuskan dibentuknya Partai Masyumi juga dibuat keputusan tentang mendukung fatwa resolusi jihad KH Hasyim Asyβari.
Kemudian tanggal 10 November 1945, Bung Tomo tampil dengan gagah berani meneriakkan takbir dan menyobek-nyobek warna biru bendera Belanda sehingga menjadi merah putih. Dari sinilah muasal Hari Pahlawan.
Fakta sejarah ini menunjukkan hubungan yang amat kuat tentang NKRI, Pancasila, pesantren, para kiai, serta umat Islam yang bersatu padu menyelamatkan Indonesia dari penjajahan Belanda dan merebut kemerdekaan Indonesia.
Tidak hanya berkorban merebut kemerdekaan NKRI, tokoh-tokoh Islam pun menjadi korban pemberontakan G30S/PKI termasuk dunia pesantren. Karena itu dalam konteks NKRI, pesantren harus menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk mengisi kemerdekaan RI, agar bangsa dan negara ini tidak menjadi komunis, kapitalis, dan liberalis.
βPesantren harus terlibat aktif dalam mengisi kemerdekaan RI ini agar negara ini tidak menjadi komunis, liberalis, maupun kapitalis,β ujar alumnus Pondok Modern Gontor itu. [Ahmad Muhajir/Rus]





















