New York, Gontornews — Warga Queens, New York, Amerika Serikat, berkumpul di masjid beberapa jam setelah seorang imam dan asistennya ditembak mati. Komunitas Muslim di AS menuding Donald Trump, calon presiden dari Partai Republik menjadi pemicu kematian imam masjid karena sikapnya yang selalu tendensius terhadap umat Islam serta menimbulkan Islamphobia.
Anggota komunitas Muslim menyerukan ‘kejahatan rasial’ tersebut secepatnya diselidiki. “Kepemimpinan seperti Trump dan Giuliani dan anggota lain dari lembaga yang memproyeksikan Islam dan Muslim sebagai musuh ini adalah hasil akhir dari kejahatan mereka,” kata seorang pria dalam pertemuan di luar masjid di Ozone Park, Queens, seperti dikutip laman euronews, Ahad (14/8).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika Islam (CAIR) New York Afaf Nasher mengatakan, βAnda tidak perlu menjadi seorang Muslim, Anda tidak perlu menjadi orang yang beriman, Anda hanya perlu menjadi orang yang berhati nurani.β
βBayangkan ayahmu ditembak tanpa alasan. Saya mengatakan ini terutama kepada orang-orang yang punya pengaruh dalam masyarakat. Setiap orang dari kita memiliki tanggung jawab,β papar Nasher.
Dari pemeriksaan sementara, polisi mengatakan sejauh ini tidak ada bukti kedua korban menjadi sasaran karena iman mereka. Namun pihak kepolisian mencatat kejahatan terhadap umat Islam melonjak tajam menyusul serangan teroris di Paris dan San Bernadino akhir 2015.
Sementara calon presiden dari Partai Republik Donald Trump sempat membuat pernyataan kontroverial dengan melarang umat Islam masuk Amerika Serikat. Pernyataan Trump tak hanya membuat sakit hati umat Islam di Amerika tapi juga umat Islam di seluruh dunia.
Sebelumnya, Sabtu (13/8) Imam Maulama Akonjee (55)Β dan Thara Uddin (64), tewas setelah ditembak di bagian kepala usai meninggalkan Masjid Jami al-Furqan di kawasan Queens, New York. [Ahmad Muhajir/Rus]





















