Istanbul, Gontornews — Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI) Yousef al-Othaimeen menolak keputusan Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Berbicara pada hari Rabu (13/12) saat pembukaan KTT OKI di Istanbul, Yousef al-Othaimeen mendesak para pemimpin Muslim untuk bekerjasama memberikan respons yang sama terhadap kebijakan AS itu.
“OKI menolak dan mengutuk keputusan Amerika,” katanya.
“Ini adalah pelanggaran hukum internasional … dan ini adalah provokasi terhadap perasaan Muslim di dunia … ini akan menciptakan situasi ketidakstabilan di wilayah ini dan di dunia.”
Berbicara di hadapan al-Othaimeen, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa AS telah “mendiskualifikasi” dirinya dari perundingan damai Israel-Palestina di masa depan setelah AS terbukti mendukung Israel.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 6 Desember bahwa AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan akan memulai proses pemindahan kedutaannya ke kota itu.
Menurut Abbas, keputusan tersebut melanggar hukum internasional.
“Kami tidak akan menerima peran apapun untuk Amerika Serikat dalam proses perdamaian, mereka telah membuktikan mendukung penuh Israel,” katanya.
“Yerusalem akan selalu menjadi ibukota Palestina.”
Warga Palestina membayangkan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina di masa depan. Sedangkan Israel mengatakan, Yerusalem yang berada di bawah pendudukan Israel, tidak dapat dibagi.
Komentar Abbas dipandang sebagai yang terkuat dalam masalah ini. [Rusdiono Mukri]




















