Jakarta, Gontornews — Lain daerah lain peluang dan tantangannya. Kendati sebagai kota kecil Batang selama tiga tahun berturut telah menyerap APBD lebih dari 90 persen. Yoyok mengaku hal itu bukanlah karena keberaniannya sebagai mantan tentara, namun karena tidak ada jalan lain.
Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo, menegaskan bahwa wilayah tugasnya berbeda dengan Bandung, Surabaya, apalagi DKI Jakarta yang memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) begitu besar.
“Kenapa, karena memang Batang itu kota kecil di Pantura. Oleh karena itu sebagai kepala daerah saya tidak ada jalan lain kecuali dengan mengefektifkan dan memanfaatkan peluang APBD untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya dalam Seri Diskusi Kepemimpinan Daerah yang bertajuk ‘Transparasi Anggaran dan Keberpihakan’ yang diselenggarakan oleh LINKS di Hotel Sofyan Betawi Menteng Jakarta Senin (5/9) kemarin.
Lanjut Yoyok bercerita bayangkan kalau pengelolaan APBD tidak kami lakukan dengan baik. Dengan menggunakan semua fasilitas yang ada termasuk anggota DPR dan sebagainya dan penyerapannya rendah habislah. Rakyat nggak bisa ngapa- ngapain. Beda dengan di kota besar yang fiskalnya luar biasa. Tapi swasta juga ingin membangun. Karena mereka di situ ada kepentingan. Masalahnya, tanggung jawab kepala daerah ini tanggung jawab APBD atau pada pihak ketiga,” paparnya.
Oleh karena itu sejak awal menjabat sebagai Bupati saya mempelajari dari awal dan berkeyakinan bagaimana caranya action dengan sumber daya yang ada yaitu APBD, Birokrat dan patner kerja saya. Partner saya siapa? Patner saya ada Kajari, DPRD dan lain-lain untuk turut serta melakukan pengawasan. “Untuk sama-sama bersatu padu mengoptimalkan APBD untuk membangun,” tandasnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien/DJ]





















