pesanan-baju-kaos
29 °c
Pecenongan
Tue
Wed
Monday, 26 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Kasus Terorisme: Kemanusiaan yang Ambigu (1)

Oleh Ma’mun Murod Al-Barbasy, Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ

M Khaerul Muttaqien by M Khaerul Muttaqien
8 years ago
in Kolom
0
Kasus Terorisme: Kemanusiaan yang Ambigu (1)

Setelah status pendek saya di media social dibully banyak orang, tentu tidak sedikit juga yang mengapresiasi, kemarin tulisan saya dengan judul: “Pelaku Bom Bunuh Diri adalah Korban” juga menuai kritik dari banyak orang. Ada kritik yang wajar dan sehat. Namun tidak sedikit kritik yang sangat kampungan. Kritik yang kampungan misalnya yang menuduh saya tidak bersimpati dan berempati pada korban, yang menuduh saya proteroris. Apa yang salah kalau saya menyebut bahwa pelaku bom bunuh diri adalah korban. Mereka ini adalah korban dari indoktrinasi dan agitasi yang dilakukan, bisa jadi dari kelompok ekstremis (saya sama sekali tidak tertarik menggunakan istilah radikalis atau fundamentalis) yang memahami agama secara sempit, namun bisa juga –berangkat dari beberapa kasus yang terjadi sebelumnya, terlebih di era Orde Baru– dari oknum aktor negara yang masih terobsesi meniru gaya-gaya lama dalam menciptakan dan memelihara keresahan di masyarakat dan sekaligus memojokkan umat Islam.

Bahkan ada komentar yang lebih ndeso lagi yang menyebut saya bersikap dan menulis seperti itu karena pelaku bom dalam rangkaian peristiwa “bom teroris” mempunyai keterkaitan dengan Muhammadiyah. Terlihat orang yang berkomentar seperti ini tak pernah membaca tulisan saya. Orang yang berkomentar seperti ini biasanya masih dihinggapi oleh watak busuk jahiliyah pra Islam yang bangga dengan ashshabiyahnya, dengan menafikan ukhuwah Islamiyah yang harusnya dikedepankan.

Meskipun begitu, tidak sedikit pula yang mengapresiasi tulisan saya. Bentuk apresiasi itu setidaknya tergambar di media online. Tulisan saya dimuat setidaknya di enam media online. Bukan saya yang mengirim tulisan tersebut, tapi media online tersebut yang meminta ijin ke saya untuk memuatnya. Mungkin media-media ini melihat bahwa dalam tulisan saya ada perspektif lain, perspektif yang berbeda dari kebanyakan orang dalam menyikapi kasus bom teroris.

Kritik, hujatan, makian, komentar negatif dalam menyikapi sebuah tulisan itu hal biasa. Dan saya bukan orang yang alergi terhadap itu semua. Yang disayangkan dari kebanyakan komentar atas tulisan saya, selalu “hanya” menempatkan korban sebagai orang yang perlu dibela. Seakan hanya perlu berempati dan bersimpati kepada korban. Sebaliknya, kebanyakan mereka menempatkan pelaku, tersangka, atau bahkan yang baru terduga sebagai pelaku sebagai pesakitan, orang yang pantas dikutuk, dimaki, dihujat, dan sebagainya.

BACA JUGA

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Strategi Guru Menumbuhkan Kualitas Iman Siswa

Menjadi Alumni Gontor Menjadi Santri Sepanjang Hayat

Internalisasi Nilai Asmaul Husna dalam Menumbuhkan Sikap Empati dan Kepedulian Sosial Siswa

Strategi Menanamkan Akidah Islam Melalui Pembiasaan Ibadah pada Anak Tingkat SD/MI

Cara berpikir seperti ini tentu tidak sepenuhnya salah, karena selama ini di masyarakat sudah terbangun narasi yang menempatkan para pelaku, tersangka, dan yang terduga pelaku pada posisi serba negatif. Bukan hanya dalam konteks kejahatan terorisme, tapi juga kejahatan lainnya, seperti korupsi dan narkoba.

Ketika ada orang disangka korupsi, langsung beragam cap negatif disematkan pada dirinya. Tidak pernah berpikir apakah dia tersangka sebenarnya atau karena ditersangkakan. Ketika ratusan kepala daerah menjadi tersangka korupsi, anggota DPRD menjadi tersangka dalam kasus korupsi berjamaah, langsung segala predikat negatif juga disematkan kepada para kepala daerah atau anggota DPRD tersebut. Publik tidak pernah bertanya, kenapa bisa ratusan kepala daerah menjadi tersangka? Publik tidak pernah bertanya kenapa puluhan anggota DPRD bisa melakukan korupsi berjamaah.
Nyaris sedikit sekali yang mencoba berpikir bijak, selain menyalahkan para pelaku korupsi juga menyalahkan sistem yang ada, menyalahkan sistem yang memproduk para koruptor. Padahal kalau yang pernah belajar teori sistem, maka rumusnya sederhana, bahwa dalam sistem yang baik, maka akan menghasilkan output yang baik pula. Sebaliknya kalau ada sistem kok outputnya buruk, jorok, kemproh, maka dipastikan sistemnya itu juga bobrok.



Coba bayangkan, kalau ada 500-an bupati/walikota dan gubernur, lalu yang masuk penjara berjumlah lebih dari 200 orang, apa pantas kita menyalahkan sepenuhnya kepada mereka yang menjadi tersangka (koruptor)? Kalau ada 100 anggota DPRD di sebuah provinsi lalu semuanya (berjamaah) ditetapkan sebagai tersangka korupsi, apa patut kita menyalahkan sepenuhnya para anggota DPRD tersebut tanpa mencoba menyalahkan sedikit pun sistem yang ada? Narasi berpikir seperti ini menurut saya sangat tidak sehat.

Dalam kasus narkoba pun sama. Kalau ada beberapa orang berpesta narkoba lalu tertangkap pihak berwajib dan ditetapkan sebagai tersangka, kebanyakan kita langsung menilai negatif tanpa mencoba iba dan berempati sambil melakukan “gugatan” kepada negara yang melakukan pembiaran(?) atas peredaran narkoba yang begitu massif di masyarakat. Termasuk menggugat tentang siapa sesungguhnya yang menjadi backing para bandar narkoba, mempertanyakan aliran dana para bandar narkoba. Gugatan kepada Negara ini selayaknya disampaikan secara demonstratif, karena faktanya peredaran narkoba terbesar justru terjadi di antaranya di lembaga-lembaga yang berada di bawah naungan negara, seperti lembaga pemasyarakatan.

Tags: AmbiguKemanusiaanTerorisme
Share48Tweet30Send
Previous Post

Antara Madzhab Hanbali dengan Salafi Kontemporer

Next Post

Malaysia: Pembebasan Anwar Ibrahim Ditunda Rabu

M Khaerul Muttaqien

M Khaerul Muttaqien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

22 October 2026
Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

22 October 2026
Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

21 October 2026
HNW Ajak Intelektual Dunia Tangani Islamofobia

HNW Ajak Intelektual Dunia Tangani Islamofobia

23 October 2026
Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

Santrivation: Teman Bertumbuh Para Santri Gapai Sukses di Kemudian Hari

15 October 2026
UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

0
Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

0
IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

0
IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

0
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

0
UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

UNIDA Gontor Benchmarking ke UGM: Perkuat Dana Abadi Perguruan Tinggi

25 October 2026
IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

IQT UNIDA Gontor Belajar Literasi Media

25 October 2026
Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

Mahasantri Gontor Analisis Sejarah Kolonial dan Masjid Kuno Beleq Bayan NTB

25 October 2026
IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

IQT UNIDA Gontor Kunjungi Pesantren Tuna Netra Raudlatul Makfufin Tangsel

25 October 2026
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

24 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.

Ukuran : S, M, L, XL

Link Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result