Rusia, Gontornews — Merantau di negeri orang tidak menjadi halangan bagi masyarakat Muslim Indonesia untuk menjalankan ibadah Ramadhan. Bahkan, waktu puasa yang terlampau sangat lama, tetap dijalankannya dengan baik.
Adalah Rifki Zulkarnain Mahasiswa asal Indonesia yang mendapatkan beasiswa master di National Research University Higher School of Economics, Rusia berbagi cerita tentang pengalamannya selama menjalani hari-harinya di negeri bekas Uni Soviet itu.
Alumni Gontor itu mengatakan, puasa di Rusia lebih lama daripada di Indonesia. “Puasa 18 jam. Ramadhan juga lebih cepat satu hari daripada Indonesia. Ramadhan pertama tanggal 16 Mei. Subuh pukul 02.28 dan Magrib 22.37. Makin hari semakin maju,” ungkap mahasiswa jurusan ekonomi politik itu kepada Gontornews menjelaskan.
Meski begitu selama studinya di sana ia dan kawan-kawannya merasa tidak ada gangguan berat dalam menjalankan kewajibannya sebagai Muslim. “Di kampus Alhamdulillah gak ada masalah, mereka tahu kalau umat Islam sedang Ramadhan dan mereka ngasih mental support. Shalat bisa di kelas kosong. Intinya sih pinter-pinter kita dalam mengkomunikasikan dengan teman kamar kalau misalnya mau shalat atau baca Qur’an,”ungkapnya
Sedangkan untuk shalat Jumat, imbuh Rifki, ia dan teman-temannya bisa shalat di masjid agung Moskow atau di KBRI. “Awalnya shalat Jumat di masjid agung Moskow. Tapi pas tahu bisa Jumatan di KBRI ya di sana terus. Sejauh ini gak ada tantangan berarti selama di Rusia. Alhamdulillah untuk makanan halal juga banyak, karena di sini ada semacam dewan halalnya untuk penjualan daging. Resto juga banyak juga yang buka, ada restoran orang Turki dan Kazak, Uzbek, Kirgis dan lainnya,”pungkasnya.[Muhammad Khaerul Muttaqien]





















