Kazan, Gontornews–Sejumlah ulama Tatarstan mengecam beredarnya video klip yang menampilkan seorang perempuan menari setengah telanjang dengan latar belakang Masjid Putih di Bulgar. Tatarstan merupakan sebuah nama Subyek Federal Rusia dengan bukotanya Kazan, dimana mayoritas penduduknya beragama Islam.
Video klip yang dirilis pada 19 September lalu tersebut menampilkan penyanyi Tatar Rezeda Ganiullina berjudul “Zhaym — Lyubimy” (Zhanym — Sayangku). Dalam video klip yang berdurasi hampir 4,5 menit ini Ganiullina bernyanyi sambil melakukan tari perut.
Ganiullina menampilkan tarian yang tak seronohnya diantara tiang-tiang serambi masjid, sudut—sudut masjid serta di halaman masjid, sambil mengibas-kibaskan gaun merah yang transparan dan nyaris terbuka.
Imam Masjid Peringatan Seribu Tahun Islam Seydzhagfar Lutfullin melalui akun facebooknya menyebut penari tersebut sebagai aib masyarakat Tatar. Ia menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan Ganiullina telah melecehkan dan menistakan agama Islam.
Imam Lutfullin meminta kepada penyebar video tersebut untuk segera menarik dari peredaran di internet. Ia juga meminta supaya penari dan pihak yang terlibat pembuatan video bertaubat kepada Allah SWT.
“Mintalah pengampunan kepada Allah. Ganiullina tak hanya menari dengan latar belakang masjid, tetapi ia juga menodai rumah Allah. Wanita dewasa seusia Ganiullina sudah seharusnya memperdalam imannya serta mempelajari lebih jauh asal-usul dan tradisi mereka, bukannya bergoyang setengah telanjang di depan semua orang,” tulis Imam seperti dilansir medusa.
Kasus ini tengah diteliti lebih lanjut untuk diproses secara hukum. Pasalnya, video yang dirilis pada 19 September lalu itu juga dianggap telah melanggar pasal 148 KUHP Rusia dengan dugaan penghinaan terhadap umat beragama.
“Masjid bukanlah tempat untuk menari,” kata Mufti Tatarstan Kami Samigullin mengomentari tarian tak seronok berlatar belakang masjid yang ditetapkan UNIESCO sebagai cagar budaya tersebut.
Menanggapi reaksi protes tersebut, Ganiullina meminta maaf dan akan segera menghapus videonya. Ia sempat beralasan bahwa video tersebut lahir sebagai bentuk profesionalisme karirnya di dunia musik.
“Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Meski saya tak melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari, tidak pernah ada satu hari pun yang saya lewati tanpa membaca ‘Bismillah’. Saya beragama Islam, agama yang murni, tulus, dan ramah. Jika video klip ini menyinggung perasaan sejumlah pihak, saya meminta maaf,” tuturnya. [Ahmad Muhajir






















