Los Angeles, Gontonews – Pernahkah Anda mendengar penyakit Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD)? Mungkin Anda baru memahami jika yang dimaksud adalah hiperaktif. Dan saat ini, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa aktivitas sosial media yang biasa dilakukan anak amat berkontribusi sebagai faktor penyebab gangguan hiperaktif ini.
Sebagaimana dilansir Alo Dokter, hiperaktif merupakan gangguan jangka panjang yang menyerang jutaan anak dengan gejala-gejala yang dapat berlangsung hingga dewasa. Umumnya, penderita ADHD mengalami gangguan dalam belajar, cenderung rendah diri, sulit berteman serta prestasi yang kurang memadai.
Beberapa faktor seperti televisi, radio menjadi salah satu faktor penyebab ADHD selain faktor keturunan, kelahiran prematur, kelainan pada struktur fungsi otak, kerusakan otak, ibu yang menggunakan obat terlarang dan racun di sekitar lingkungan anak seperti timah yang terdapat pada cat. Yang terbaru, sosial media ditengarai sebagai penyebab ADHD.
Para peneliti melakukan survei terhadap 2500 remaja berusia 15 hingga 16 tahun selama 2 tahun sejak tahun 2015. Meski tidak masuk kriteria penderita ADHD, sebagaimana dirumuskan oleh the Diagnostic and Stastical Manual of Mental Disorder (DSMMD), dalam beberapa saat, mereka justru berpotensi mengalami ADHD di waktu-waktu mendatang.
“Ini adalah penelitian pertama yang melihat adanya kaitan media digital dengan risiko ADHD,” kata psikolog asal University of Suthern California, Adam Leventhal, sebagaimana dilansir Science Alert.
Penelitian yang diterbitkan di Journal of the American Medial Association (JAMA) tersebut juga mengungkapkan bahwa kegiatan-kegiatan lumrah pada media digital seperti menulis, chating, serta mendengarkan musik secara daring, setidaknya dalam waktu 6 bulan, telah menyebabkan gejala ADHD.
Setidaknya dari beberapa sampel yang diterima, mereka sepakat mengalami kesulitan dalam menyelesaikan dan mengatur tugas serta melupakan tanggung jawab yang dibebankan. Bagi Leventhal, media sosial memainkan peran penting dalam memperburuk masalah ADHD ini.
Lebih lanjut, seorang dokter anak dari University of Michigan meminta agar para orangtua memberikan prioritas kegiatan yang mempromosikan fungsi dan kesejahteraan eksekutif remaja pada umumnya.
“Seperti tidur, aktivitas fisik, pekerjaan rumah, dan interaksi positif dengan keluarga dan teman,” katanya mengakhiri. [Mohamad Deny Irawan]




















