Tangerang Selatan, Gontornews — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong para penelitinya untuk menciptakan produk teknologi bersih atau ramah lingkungan. LIPI menilai, perkembangan sains di masa mendatang menuntut teknologi yang ramah lingkungan.
“Intinya produk penelitian di masa mendatang, baik proses maupun hasilnya diarahkan tidak berdampak buruk bagi alam,” ungkap Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI Laksana Tri Handoko sebagaimana dilansir Lipi.go.id.
Melalui Loka Penelitian Teknologi Bersih, Handoko menyebut LIPI terus berupaya menjawab kebutuhan teknologi bersih dengan fokus pada penelitian pengolahan limbah dan energi terbarukan.
“Terkait penelitian energi bersih, kami telah memetakan persebaran energi yang disesuaikan dengan potensi daerah terpencil seperti biogas dan mikrohidro,” tambahnya.
Handoko juga mengatakan, saat ini penelitian LIPI terkait energi bersih tersebut menyasar limbah pertanian dan peternakan terus dikembangkan. Bahkan, limbah yang selama ini dianggap sebagai masalah, justru dapat diolah menjadi energi dan juga pupuk organik hayati.
“Untuk mewujudkan teknologi bersih, diperlukan kerjasama antara universitas dan lembaga penelitian agar saling menstimulasi munculnya inovasi dalam riset,” sambungnya seraya menyebut pentingnya peran manajemen sains untuk meningkatkan kualitas SDM dan publikasi internasional.
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe mengaku, di Kemenristekdikti belum terdapat kebijakan yang mengatur penggunaan teknologi bersih.
“Pemerintah saat ini sedang menyusun kebijakan tentang audit teknologi yakni pemeriksaan dampak penggunaan teknologi terhadap lingkungan,” ujarnya.
Nantinya, kata Jumain, sistem audit harus dilakukan oleh pengguna teknologi impor seperti universitas maupun lembaga penelitian.
“Audit teknologi untuk menilai kelayakan teknologi yang akan diimpor apakah berdampak buruk untuk lingkungan. Jangan sampai teknologi impor yang digunakan berdampak negatif,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan/Rus]

















