Kuala Lumpur, Gontornews – Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Singapura sepakat untuk menunda pembangunan kereta cepat yang menghubungkan Malaysia dan Singapura, Senin (3/9), setidaknya untuk dua tahun yang akan datang atau hingga 31 Mei 2020.
Kesepakatan ini dilakukan sehubungan dengan rencana Perdana Menteri Malaysia terpilih, Mahathir Mohamad, untuk meninjau mega proyek bernilai miliaran dolar Amerika Serikat yang berpotensi menambah hutang negara.
Meski menunda proyek itu, Menteri Ekonomi Malaysia, Mohammad Azmin Ali memastikan bahwa Pemerintah Malaysia akan tetap berkomitmen terhadap kesepakatan tersebut. Hanya saja, Pemerintah Malaysia akan sekuat tenaga dan bertekad untuk mengurangi beban hutang negara yang dihasilkan dari setiap proyek pemerintah yang disepakati oleh pemerintahan sebelumnya.
“Kami ingin menjalankan proyek ini karena akan membawa kebaikan bagi kedua negara,” ungkap Azmin Ali sebagaimana dilansir Reuters.
“Namun, selama penundaan, kami akan membahas tentang bagaimana cara untuk mengurangi biaya,” tambah Azmin.
Sementara itu, Kementerian Transportasi Singapura enggan berkomentar dengan kesepakatan ini.
Sebelumnya, Pemerintah Singapura dikabarkan akan segera mengucurkan dana lebih dari 250 juta dolar Singapura atau setara dengan 2,7 triliun rupiah (kurs 1 dolar Singapura = 10.833,64 rupiah) untuk memperlancar mega proyek di bidang transportasi itu hingga akhirnya Malaysia memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut.
Sejak terpilih kembali menjadi Perdana Menteri, Mahathir Mohamad, memutuskan untuk meninjau kembali proyek bernilai miliaran dolar Amerika Serikat yang disepakati oleh Perdana Menteri Malaysia sebelumnya, Najib Razak. Mahahtir juga bertekad untuk menunda sejumlah pelaksanaan proyek untuk mengurang biaya kompensasi di masa mendatang. [Mohamad Deny Irawan]


















