Ponorogo, Gontornews — Pada tahun 1982 Pondok Modern Gontor membangun satu unit usaha yakni Usaha Kesejahteraan Kerja (UKK) yang bertujuan menyejahterakan para guru. Konsumen UKK tidak hanya santri, masyarakat juga ikut membeli.
“Biasanya masyarakat lebih sering beli di samping,” ujar Rifki Akbar, staf UKK kepada wartawan Gontor Putri 3 di kantornya, Sabtu (22/9).
UKK memiliki dua outlet (tempat). Pertama, outlet yang menyediakan pakaian, alat tulis, dan keperluan santri lainnya. Outlet ini biasanya dipenuhi oleh para santri yang berbelanja.
Kedua, outlet yang khusus menyediakan sembako. Outlet yang terletak berdampingan dengan outlet pertama ini biasanya dipadati oleh masyarakat yang berbelanja.
Penghasilan yang didapatkan dari UKK bisa mencapai miliaran rupiah. “Penghasilan UKK per bulan bisa mencapai 1 miliar rupiah, bahkan setahun bisa menembus angka 20 miliar karena pada bulan Syawwal yang merupakan tahun ajaran baru banyak calon pelajar dan santri baru yang berbelanja sehingga penghasilan pada bulan ini meningkat sampai menghasilkan 8 miliar,” papar Rifki.
UKK bekerjasama dengan distributor dari Pondok Modern Gontor untuk pengadaan barang seperti alat-alat olahraga, kaos, peci, dan sepatu. Sedangkan distributor dari luar pondok memasok makanan, minuman dan lain-lain. Pengiriman barang ke UKK tidak tergantung waktu, tapi tergantung kebutuhan dan ketersediaan barang.
Para santri lebih memilih berbelanja di UKK daripada di Koperasi Pelajar (Kopel) Gontor, karena harga di UKK lebih murah dan ekonomis. Antara UKK dan Kopel memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, seperti pelayanan di UKK yang terkadang komputernya rusak dan penjaganya sedikit. [Khodijah Srikandi/GP3]





















