Cox’s Bazar, Gontornews β Sejumlah generasi milienal yang berasal dari pengungsi Rohignya bertekad untuk belajar setinggi-tingginya. Mereka berharap, pendidikan tinggi dapat merubah keadaan yang meraka alami selama menjadi etnis minoritas Rohingya di Myanmar.
Rahima Akter (19) misalnya mengatakan bahwa ia bermimpi untuk menjadi wanita Rohingya pertama yang paling terdidik di dunia. “Jika kita menjalani pendidikan, kita akan dapat menjalan kehidupan dengan baik,” kata perempuan yang akrab disapa Khushi tersebut.
Sebagaimana dilansir Daily Times, orang tua Akter merupakan bagian dari 250.000 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kerja paksa, penganiayaan agama serta kekerasan fisik yang dilancarkan oleh kelompok masyarakat Budha di Myanmar pada awal tahun 1990-an.
Sejauh ini, Akter bekerja sebagai penerjemah bagi sejumlah lembaga-lembaga internasional pengirim bantuan serta jurnalis internasional yang menginformasikan arus baru pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Bangladesh sejak tahun 2017 silam.
Tim pencari fakta PBB telah melaporkan bahwa setidanya 10.000 orang tewas di tangan militer Myanmar dalam bentrokan yang terjadi di Rakhine. Akter pun bersyukur dapat melewati pos-pos pemeriksaan berada di kamp pengungsian dan menyuap seorang pejabat di Sekolah Β Negeri milik Bangladesh Β hanya untuk mengikuti proses pendidikan.
Selain itu, UNICEF juga mencatat bahwa di kamp pengungsian Bangladesh, lebih dari 1.200 Sekolah mengajarkan matematika, bahasa Inggris, sains, seni kepada sekitar 140.000 anak-anak pengungsi Rohingya berusia 6-14 tahun. [Mohamad Deny Irawan]





















