Bandung, Gontornews — “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kesabaran.” QS. Al-Ashr: 1-3.
Ajaran Islam mencakup segenap perihal kehidupan manusia, termasuk tentang waktu. Membahas tentang waktu, Islam ternyata memiliki sistem tata waktu sendiri yang sedikit banyak berbeda dengan sistem tata waktu internasional (Greenwich Mean Time-GMT) yang telah diberlakukan di setiap negara.
Padahal, banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang secara implisit telah memberikan penjelasan nyata akan hal ini. Namun demikian, sayangnya banyak umat Islam yang tidak menyadari hal ini serta tidak mampu menangkap makna sesungguhnya dari ayat-ayat dan hadits tersebut. Sehingga banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa Islam memiliki sistem waktu yang jauh lebih baik dari lainnya.
Perlu diketahui bahwa Islam menganut dua sistem almanak (penangggalan), yaitu gabungan sistem almanak qomariyah (lunar calender system) dan sistem almanak syamsiyah (solar calender system). Salah satu nash yang mendasari sistem almanak ini adalah, “ Dia menyingsingkan pagi (dari gelap), dan Dia menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan (waktu). Itulah ketentuan (Nya), …” QS. Al-An’am: 96.
Pada sebuah wawancara eksklusif dengan Dr Moedji Raharto -Ketua Kelompok Keahlian Astronomi ITB Peneliti Bosscha, Bandung, disebutkan bahwa pada ajaran Islam itu manusia selalu diingatkan untuk berdzikir. Berdzikir ini ada waktu-waktunya seperti kapan waktu shalat, ibadah haji, Ramadhan dan shalat-shalat sunah lainnya.
Semua waktu yang digunakan tersebut, syarat akan makna ilmu pengetahuan. Sehingga mau atau tidak, lanjut Dr Moedji, kita harus mempelajari tentang bagaimana posisi matahari dan bulan serta bagaimana periode juga siklusnya.
Hal ini berarti bahwa sebetulnya siklus yang teratur di alam semesta ini tidak hanya sebagai indicator alat pengukur waktu. Seperti halnya saat kita melihat bulan mengelilingi matahari dan bumi berputar mengelilingi matahari yang kerap diibaratkan sebagai “jam abadi” dalam arti alat indikator penunjuk waktu yang berjalan berjuta milyar tahun tidak rusak-rusak.
Fenomena kedudukan matahari yang berubah setiap waktu serta perbedaan siklus cuaca yang tidak sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, membuktikan betapa besar dampak keberadaan jam abadi tersebut. Dengan demikian, salah satu manfaat dari eksistensi benda-benda langit itu adalah untuk menentukan waktu-waktu ibadah. Bukan semata-mata untuk konsumsi pikiran semata tapi juga difungsikan untuk berdzikir kepada Allah SWT.
Masalah waktu itu sendiri bagi para ilmuwan dan cerdik cendekia sampai sekarang belum bisa memberikan definisi. Tahunya kita hidup dalam ruang dan waktu. Sebagaimana Al-Qur’an memberikan gambaran bahwa demi waktu kita akan merugi yang berarti apa yang diciptakan Allah ini pasti memiliki batas waktunya. Ketika kita melihat jagat raya yang begitu megah yang tampaknya tidak akan hancur ini juga tidak bisa dikatakan akan abadi. Apa yang kita bangun dan miliki suatu saat juga pasti akan hancur.
Di dalam al-Qur’an, Allah SWT selalu menyebutkan banyak perihal waktu yang bertujuan menyadarkan setiap makhluk ciptaan-Nya terutama manusia untuk menyembah kepada Allah SWT. Dengan demikian peringatan semacam itu harus dikumandangan setiap saat supaya kita tidak tergelincir terlalu jauh.
Ada juga beberapa peringatan lain seperti waktu ini relatif, waktu pembentukan alam semesta, waktu beribadah dan macam-macam waktu lainnya. Waktu yang relatif tadi mungkin digambarkan ketika sangsakakala ditiupkan, di mana semua makhluk hidup akan terkagetkan dan ketakutan. Itu dahsyat!
Kita sudah melihat miniaturnya seperti gempa bumi, tsunami, tabrakan benda-benda di langit (tata surya) yang merupakan bagian luar biasa. Tentunya, bahwa kiamat dan proses sebuah kehancuran dan masa kebangkitan di padang mahsyar itu akan menjadi sebuah pertanggung jawaban manusia tentang waktunya masing-masing. <Edithya Miranti>





















