Bandung, Gontornews — Masjid Salman adalah sebuah masjid kampus yang terletak di lingkungan kampus ITB (Institut Teknologi Bandung). Kehadiran Masjid Salman bak laboratorium ruhani bagi masyarakat kampus setempat. Wadah pembinaan insan, pengembangan masyarakat, dan pembangunan peradaban Islami menjadi beberapa rentetan tujuan pendiriannya.
Dibangun pada akhir tahun 1964 untuk melayani kebutuhan sivitas akademika dan juga dipersembahkan untuk seluruh masyarakat Muslim Indonesia. Awalnya, pada 24 April 1964, Kasab Jendral A H Nasution berkunjung ke ITB atas undangan Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Kala itu Nasution ikut shalat Jumat di sana dan malamnya sebelum ia ceramah, mahasiswa membacakan ikrar untuk membangun masjid di ITB, dan ia pun mendukungnya.
Kamis, 28 Mei 1964, delegasi JPM ITB yang dipimpin Prof T M Soelaiman beserta Ahmad Sadali dan Ahmad Noe’man, bertemu Bung Karno di istana. Bung Karno menandatangani rancangan gambar masjid yang dibuat oleh Ahmad Noe’man dan memberi nama Salman.
Hingga pada 30 Mei 1964, Bung Karno mengirim surat dengan kop kepresidenan yang menyatakan bersedia menjadi pelindung dan memberi nama Salman dan jadilah sebuah masjid indah di wilayah kampus ITB pada akhir tahun itu juga.
Poros Peradaban Mahasiswa
Hingga saat ini Masjid Salman menjadi ajang kegiatan mahasiswa dengan dinamika yang tinggi. Kegiatan yang diadakan tidak terbatas pada pembinaan keagamaan saja, tapi justru lebih condong pada ragam kegiatan yang berkaitan pada kemaslahatan umat, seperti pendidikan, ilmu, dan pengetahuan.
Demi melancarkan program dakwahnya, Salman telah membentuk Lembaga Pengembangan Manajemen dan Ekonomi Syariah (LPES) dengan pelatihan Ekonomi Syariah, Lembaga Muslimah Salman (LMS) dengan program Sekolah Pra Nikah dan Parenting Class, serta Lembaga Kaderisasi (LK) membina kader inti mahasiswa yang difasilitasi asrama putra dan putri.
Selain itu, ada juga Lembaga Pengembangan Dakwah (LPD) dengan salah satu program unggulannya adalah Rumah Al Quran, juga Lembaga Media yang menghasilkan produk-produk media massa berupa buletin dakwah, buku seputar ibadah, dan situs internet (www.cybermosque.com).
Arsitektur Salman
Masjid Salman berbentuk bujursangkar, dengan serambi yang mengelilingi sisi di sebelah selatan, utara, dan timur. Salman juga memiliki sebuah menara juga ruang shalat untuk jamaah yang terdiri dari dua lantai.
Kondisi bagian atap lantai satu yang terbuka lebar membuat Salman terkesan semakin luas. Dan yang terpenting hal tersebut dapat memudahkan para jamaah dan imam shalat dalam berhubung pandang secara langsung saat melaksanakan ragam kegiatan ibadah. Luas lantai 35m x 35m.
Ukuran ruang shalat utama pada lantai pertama 30m x30m. Sedangkan luas masjid tidak lebih dari separuh luas lahannya. Namun demikian, ketika Shalat Jumat tiba, saat jamaah mencapai puncaknya, halaman masjid ini pun penuh. [Edithya Miranti]


















