Saada, Gontornews — Salah satu pemasukan ekspor terbesar Yaman yaitu buah Delima merah terancam tidak berkembang akibat perang saudara yang telah terjadi di Yaman dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, jutaan orang terancam kelaparan akibat terhambatnya ekspor serta perkembangan perdagangan delima.
“Buah delima mati karena kekurangan pasokan air akibat blokade,” kata seorang petani delima, Rabeea al-Abdy sebagaimana dilansir Reuters.
Akibat perang saudara di Yaman, ekspor buah delima turun hingga sepertiga harga. Petani delima setempat mengelukan minimnya pasokan bahan bakar, irigasi serta bom udara yang ‘diledakkan’ oleh Arab Saudi.
Para petani delima menambahkan bahwa sejumlah pasar dan jalur transportasi yang dijadikan target serangan telah membuat harga transportasi meningkat terutama akses perjalanan menuju pelabuhan utama di Yaman, Hudaibiyah.
Selain itu, aturan ketat yang diberlakukan oleh pasukan koalisi Arab Saudi terhadap impor ke Yaman juga telah memperlambat arus perdagangan delima termasuk barang-barang komersial maupun kebutuhan vital masyarakat Β seperti bahan bakar, obat-obatan serta bantuan kemanusiaan. Koalisi ArabΒ Saudi berdalih jika pengetatan aturan tersebut untuk mencegah penyelundupan senjata yang dilakukan Iran kepada pemberontak Houthi.
“Perang telah menyebabkan kenaikah harga bahan bakar. Kebutuhan pertanian juga meningkat drastis dibandingkan hasil produksi delima yang dihasilkan petani,” keluh manajer penjualan produk pertanian di Saada, Ali Saleh. [Mohamad Deny Irawan]























