Stockholm, Gontornews — Perundingan damai antara Pemerintah Yaman yang berkoalisi dengan Arab Saudi dengan militan Houthi di Stockholm Swedia tengah berjalan, Kamis (7/12). Utusan PBB dalam perundingan perdamaian di Yaman, Martin Griffiths, berharap pertemuan ini akan menghasilkan pembicaraan damai untuk mengakhiri perang yang telah menyebabkan jutaan warga Yaman berada di jurang kelaparan.
Sebagai langkah pertama, perundingan damai akan membahas tentang pertukaran tawanan antara dua pihak yang bertikai. Palang Merah Internasional bahkan menyebut ada 5.000 tawanan yang akan dibebaskan sesuai perundingan damai yang terjadi.
Sebagaimana diketahui, militan Houthi berhasil menguasai ibukota Yaman, Sana’a dan daerah-darah padat penduduk di Yaman. Sementara pemerintah terguling Yaman pimpinan Presiden Abd Robbu Mansour Hadi menyingkir ke Aden dan terus menjalin koalisi negara-negara Arab untuk meminta bantuan.
kesepakatan lain yang dilhasilkan, sebagaimana dilansir Reuters, adalah pembukaan kembali bandara internasional Sana’a di Yaman, menopang bank sentral serta gencatan senjata di pelabuhan Hudaidah yang saat ini dikuasai oleh Houthi.
“(Pelabuhan)Hudaidah sangat kompleks,” kata seorang sumber dari Amerika Serikat yang dilansir Reuters.
Alasannya, PBB telah menyampaikan kepada kedua pihak yang bertikai untuk mencegah serangan besar-besaran di wilayah tesebut karena wilayah itu merupakan pintu masuk barang dan bantuan komersial bagi penduduk Yaman.
Di sisi lain, bandara Sana’a masih dikuasai oleh Pemerintah Yaman yang berkoalisi dengan Arab Saudi. Perundingan tersebut tersebut lantas meminta agar koalisi Arab Saudi membuka kembali akses penerbangan masuk maupun keluar dari wilayah Houthi.
Meski demikian, Kepala komite revolusi tertinggi Houthi, Mohammed Ali Al-Houthi membantah kesepakatan untuk membuka kembali bandara. Dan menyebut bahwa pembukaan bandara tersebut sebagai akal-akalan Amerika Serikat untuk masuk ke Yaman. [Mohamad Deny Irawan]


















