Harvard, Gontornews — Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Harvardh John A Paulson School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) and the Harvard China Project menyebut bahwa kekuatan angin di India melemah. Akibatnya, investasi miliaran Dollar Amerika Serikat yang dikeluarkan India untuk memaksimalkan potensi angin di wilayahnya terancam gagal.
Sebagai salah satu dari tiga negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, India mulai berinvestasi miliaran Dollar Amerika Serikat untuk menggandakan kapasitan tenaga angin untuk tenaga listrik dalam 5 tahun ke depan. Turbin-turbin angin telah memasuki tahap pembangunan di sejumlah wilayah seperti India Selatan dan Barat dan diproyeksikan mampu menangkap angin muson yang melewati India pada musim panas mendatang.
Meski demikian, peneliti menemukan bahwa angin munson India melemah akibat meningkatnya suhu air di Samudera Hindia. Akibat perubahan iklim tersbeut, kekuatan angin yang berasal dari Samudera hindia menurun secara bertahap.
“Kami menemukan bahwa investasi India untuk tenaga angin sebagai solusi terhadap perubahan iklim dan polusi udara sangat rentan terhadap perubahan iklim,” kata penulis utama Meng Gao, sebagaimana dilansir Science Daily.
Penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal daring Science Advance tersebut menghitung potensi tenaga angin di India selam empat dekade terakhir serta pengaruh musim panas India terhadap tren kekuatan angin. Sebanyak 63 persen produksi energi angin di India terkait langsung dengan angin pada musim semi ataupun musim panas.
Percaya atau tidak, peneliti bahkan menemukan tren menurun kekuatan angin selama 40 tahun terakhir. Mereka menyebut angka 13 persen penurunan tenaga angin akibat melemahnya angin monsun yang berhembus dari Samudera Hindia. Akibatnya, sistem tenaga angin yang dipasang oleh pemerintah India tidak terlalu produktif.
Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tersebut, Pemerintah India memprioritaskan pembangunan turbin angin di daerah Rajhastan dan Maharashtra sebagai wilayah prioritas. Namun, peneliti menemukan bahwa di daerah tersebut, penurunan energi angin terjadi secara drastis. Berbeda dengan turbin angin yang dibangun di wilayah India Barat yang bahkan hampir tidak terdampak perubahan iklim.
“Temuan kami menyarankan tentang tempat terbaik untuk pembangunan turbin angin untuk meminimalkan perubahan iklim,” kata penulis senior dalam penelitian tersebut, Michael B McElroy.
Lebih lanjut, peneliitan lanjutan telah dipersiapkan dengan menjadikan pemaksimalkan potensi tenaga angin di India di masa mendatang berdasarkan model iklim. [Mohamad Deny Irawan]



















