Bangkok, Gontornews — Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, meminta kepada Asosiasi Negara-negara di Asia Tenggara (Association of Southeast Asian Nation/ASEAN) untuk memberi perhatian serius kepada kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Rohingya, Myanmar.
Menurutnya, ASEAN perlu mengambil langkah konkret dan strategis untuk menekan pemerintah dan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, agar bertanggung jawab terhadap kekerasan yang terjadi di Rakhine tersebut.
“ASEAN harus belajar bagaimana cara memberikan tekanan kepada pemerintah yang tidak memperlakukan rakyatnya dengan fair dan adil,” ungkap Mahathir sebagaimana dilansir The Star Online dari portal The Nation.
“Jika ASEAN hanya membiarkan pembantaian orang-orang (Rohingya) ini, maka kita tidak bertindak secara bertanggung jawab,” tambah Mahathir.
Sebagaimana diketahui, pasca pertemuan KTT ASEAN ke-33 di Singapura 11-15 November 2018 yang lalu, Thailand didapuk sebagai pemimpin ASEAN selanjutnya.
Lebih lanjut, Mahathir menyindir tegas keberadaan Aung San Suu Kyi yang dianggap tidak memiliki peran apapun dalam rangka menciptakan keadilan bagi etnis minoritas Rohingya di Rakhine.
“Aung San Suu Kyi pernah beperang melawan militer (Myanmar), tetapi ketika mereka sudah menjadi bagian dari Pemerintah, ia tidak memiliki pengaruh apapun atas militer,” sindir Perdana Menteri berusia 93 tahun tersebut.
“Dia tidak boleh mengasosiasikan dirinya dengan militer. Mereka (pernah) tidak adil padanya dan sekarang mereka tidak adil kepada Rohingya,” tambah Mahahtir.
Tidak hanya itu, Mahathir juga pesimis dengan langkah repatriasi pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar menyusul keengganan mereka untuk kembali karena ketidakpastian keamanan maupun status kewarganegaraan.
“Mereka mungkin tinggal lebih lama. Mereka tidak akan diterima menjadi warga negara Malaysia, tetapi mereka akan kami terima sebagai pengungsi,” pungkas Mahathir. [Mohamad Deny Irawan]





















