Yangon, Gontornews — Pemerintah Myanmar menginstruksikkan kepada pihak militer (The Tamtadaw) untuk menyerang habis-habisan pasukan Arakan Army yang tinggal di negara bagian Rakhine, Senin (15/1). Instruksi ini diberikan setelah sebelumnya 13 petugas penjaga dari pihak kepolisian tewas akibat serangan yang dilakukan oleh kelompok Arakan Army.
Akibat penyerangan militer ke Rakhine, setidaknya 5.000 warga Rakhine tepaksa mengungsi dari rumah mereka karena alasan keamanan dalam rentang waktu satu bulan terakhir.
Reuters menjelaskan bahwa kekerasan yang terjadi kali ini membuktikan bahwa penyelesaikan konflik antar etnis di Rakhine belum sepenuhnya usai. Bentrokan yang terjadi antara pasukan Arakan Rohingya Salvation Army dan militer Myanmar pada tahun 2017 telah menyebabkan setidaknya 700.000 etnis minoritas Rohignya mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh.
Pun dengan keberadaan pemenang nobel perdamaian sekaligus pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang mendapatkan sorotan negatif dari dunia internasional karena ketidakmampuannya menjaga perdamaian antar etnis di Rakhine, Myanmar.
Pesawat tempur yang berseliweran serta truk-truk militer di bahkan disebut-sebut oleh masyarakat setempat, telah membuat masyaraka khawatir bahwa kekerasan serta kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada tahun 2017 yang lalu akan terjadi lagi di Rakhine.
Meski demikian, Reuters kembali menjelaskan bahwa Arakan Army, yang dituduh berada dibalik penyerangan yang menewaskan 13 orang petugas penjaga perbatasan tersebut sejatinya menjauhkan diri mereka dari konflik masyarakat antara Budha dan Muslim sebagaimana konflik yang pernah terjadi sebelumnya.
Terlebih, wilayah Rakhine disebut-sebut sebagai daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah seperti minyak. Meski demikian, Rakhine menjadi salah satu wilayah termiskin di Rakhine karena hanya 17 persen masyarakat Rakhine yang memiliki akses air minum di banding di daerah lain. Selain itu, Bank Dunia, juga mencatat bahwa 300.000 rumah tangga di Rakhine tidak memiliki toilet. [Mohamad Deny Irawan]






















