Shanghai, Gontornews — Pemerintah Cina memutuskan untuk membangun 100 pabrik daur ulang berskala besar untuk mengatasi masalah sampah dan limbah yang melanda wilayahnya. Keputusan ini dibuat menyusul munculnya desakan untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki saat larangan impor limbah atau sampah asing diperpanjang.
Akibat ledakan manufaktur yang panjang, Cina terbebani dengan jutaan ton limbah yang mengakibatkan timbunan sampah meluas serta mencemari wilayah sekitar tempat pembuangan sampah. Kondisi ini makin diperparah dengan sampah asing yang kerap diselundupkan dan masuk ke Cina.
“Volume besar limbah padat sangat berdampak sekaligus membatasi pengembangan ekonomi industri berkualitas tinggi,” ungkap pernyataan resmi Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Cina sebagaimana dilansir Reuters.
Secara rinci, Cina mempersiapkan 50 pangkalan pengolahan sampah untuk kategori limbah padat dan curah serta 50 pangkalan pengolahan sampah lainnya diperuntukkan bagi limbah industri seperti produk logam, pertambangan, batu bara, konstruksi, pertanian dan kehutanan.
Pemerintah Cina berharap bahwa pengolahan limbah tersebut dapat diolah menjadi sepeda, baterai, hingga panel surya. Tidak berhenti sampai di situ, Cina juga akan mempromosikan produk daur ulangnya bersamaan dengan promosi terhadap teknologi canggih dan produk keluaran Cina. Mereka juga berharap para penglola industri daur ulang mendapatkan untung besar jika mampu masuk ke pasar Eropa hingga Amerika.
Cina sendiri mendapatkan impor limbah padat sekitar 60 juta ton per tahun sebelum akhirnya pemerintah melarang impor 24 jenis limbah pada tahun 2017 yang lalu. Namun, Pemerintah Cina memperpanjang larangan impor limbah jenis kertas, plastik, kapal bekas hingga suku cadang kendaraan bermotor pada 2018 menjadi 16 jenis limbah.
Mulai Juli 2018, mereka juga melarang impor varietas baja tua, tembaga, aluminium hingga akhier Desember lalu.
“Beberapa barang tidak dapat diimpor lagi, termasuk plastik. Akan tetapi, limbah domestik dan impor akan ditangani oleh orang yang berbeda dan mereka bukan bagian dari sistem yang sama,” pungkas Sekretaris Jenderal the China Scrap Plastic Association, Wang Wang mengakiri. [Mohamad Deny Irawan]






















