Cox’s Bazar, Gontornews — Lembaga palang merah internasional (International Federation of Red Cross/IFRC) dan bulan sabit merah internasional Bangladesh (Bangladesh Red Crescent Society/BDRCS) memprediksi biaya yang diperlukan bagi pengungsi Rohingya yang terancam topan di Bangladesh. Mereka memprediksi setidaknya sekitar 6 Lakh Bangladesh atau sekitar 8,46 miliar rupiah yang dibutuhkan untuk membantu pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Cox’s Bazar.
IFRC juga memperkirakan sekitar 574.000 pengungsi Rohingya akan terkena dampak cuaca ekstrem. IFRC pun mendesak sejumlah pihak agar memperkokoh bangunan kamp pengungsian Rohingya agar lebih kuat untuk menahan badai.
Sejak 25 Agustus 2017, kondisi perumahan di kamp pengungsian memburuk dalam 18 bulan terakhir. Mereka bahkan harus memotong bambu serta merobek-robek plastik untuk melindungi mereka dari cuaca ekstrem tersebut.
Baik IFRC maupuan BDRCS mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima bantuan kemanusiaan dari dunia internasional bagi 250.000 pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar. Umumnya, bantuan yang diterima IFRC maupun BDRCS berbentuk makanan, air hingga bahan-bahan tempat berteduh. Selain itu, bantuan tersebut juga telah membuat sekitar 160.000 pengungsi mendapatkan perawatan kesehatan yang layak.
“Namun, setelah 18 bulan, kondisi mereka memburuk secara dramatis. Kondisi tersebut yang membuat mereka khawatir. Komunitas bantuan di Cox’s Bazar perlu memprioritas perbaikan serta mengganti tempat penampungan pengungsi yang rusak sehingga mereka mendapatkan perlindungan yang memenuhi unsur-unsur kenyamanan dan bermartabat,” ungkap Kepala IFRC Bangladesh, Azmat Ulla, sebagaimana dilansir Dhaka Tribune.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal BDRCS, Salah Uddin mengungkapkan bahwa pihaknya membutuhkan fondasi bangunan yang kuat guna menahan bangunan kamp pengungsian dari ancaman badai maupun bencana-bencana lainnya untuk beberapa bulan mendatang.
“Teknisi terlatih kami membantu para penghuni kamp pengungsian untuk memperbaiki tempat penampungan mereka. Hal ini sangat penting bagi mereka terutama para penyandang cacat, lanjut usia, wanita dan anak-anak,” kata Salah Uddin.
“Keadaan tempat penampungan yang menyedihkan menggambarkan betapa tidak adanya tindaklanjut serta tidak terjaminnya keamanan (para pengungsi),” jelas Azmat Ulla
“Kami terus menyerukan solusi politik yang mendesak untuk menangani krisis ini. Tetapi untuk sementara, kami membutuhkan hal-hal yang mampu memberikan kenyamanan serta hal-hal bermartabat (bagi para pengungsi Rohingya,” tutup Azmat Ulla menutup. [Mohamad Deny Irawan]






















