Tripoli, Gontornews — Lebih dari 3 juta buku hancur ketika roket yang menghujam sejumlah gedung pendidikan dalam perang saudara di Libya, Sabtu (13/4) yang telah berlangsung sejak pemimpin kharismatik Lybia, Muammar Qadafi, lengser dari kursi Presiden Lybia pada tahun 2011 silam.
Koordinator urusan kemanusiaan Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nations Office for the Humanitarian Affairs/UNOCHA) mengatakan bahwa serangan membabi buta yang menghancurkan fasilitas sipil seperti lembaga pendidikan merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional (International Humanitarian Law/IHL).
Selain menyasar lembaga pendidikan, perang saudara tersebut juga menargetkan infrastruktur sipil hingga rumah-rumah penduduk. Umumnya, kedua belah pihak melancarkan serangan udara dengan disertai tembakan ke fasilitas-fasilitas sipil yang menjadi target.
Serangan terbaru yang dilancarkan oleh tentara nasional Lybia (Lybian National Army/LNA) berhasil meluluhlantahkan sebuah gudang milik Kementerian Pendidikan Lybia. Dalam serangan tersebut setidaknya sektiar 3 juta koleksi buku Pemerintah hancur beserta gedung tersebut.
“Penyerangan terhadap fasilitas sekolah, rumah sakit, mobil ambulans dan wilayah sipil adalah dilarang,” ungkap pernyataan misi pendukung PBB di Libya (United Support Mission in Libya/USMIL), Senin (15/4), sebagaimana dilansir Reuters.
Sejumlah organisasi yang dberada di bawah naungan PBB seperti organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) hingga agen migrasi PBB mencatat dampak buruk dari perang saudara tersebut.
WHO misalnya mencatata bahwa lebih dari 150 orang tewas dengan 600 orang terluka selama perang saudara di Libya berlangsung. Sedangkan dari agen migrasi PBB menyebut ada lebih dari 18.000 orang terlantar akibat pertempuran serta 2.500 orang dalam perang saudara yang baru terjadi pada 24 jam terakhir.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda kapan perang saudara di Libya ini akan berakhir. [Mohamad Deny Irawan]
























