Pembangunan pesantren di tengah kompleks pemukiman memang tidak biasa. Namun, Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang dapat membuktikan bahwa mereka tetap menjaga nilai-nilai pendidikan pesantren bagi santrinya.
Sebuah peribahasa Arab menyebutkan sāfir tajid ‘iwaḍan ‘amman tufāriqhu fanṣab fainna ladhīda al-‘aysyi fi al-naṣabi yang berarti pergilah (dari rumahmu) kelak kau akan menemukan pengganti tentang apa-apa yang kau tinggalkan, maka berusahalah karena kenikmatan hidup berada dalam setiap usaha (yang dijalani).
Umumnya orang beranggapan pesantren ‘harus’ selalu berada di wilayah pedalaman. Jika tidak becek, tanpa listrik, tanah berlumpur jika hujan atau sulitnya transportasi, maka sebuah pesantren belum layak disebut pesantren. Apalagi jika pesantren tersebut dikhususkan untuk putri.
Beda halnya dengan Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang. Jaraknya yang hanya sekitar 30 km sebelah selatan Ibukota Indonesia, memberikan warna baru pendidikan pesantren di tengah kota.
Kehidupan asrama yang dipadukan dengan sistem pendidikan khas pesantren serta suasana perkotaan, yang berada tepat di tengah kompleks Pamulang Estate, namun dikelilingi pohon rindang menambah asri sisi kehidupan pesantren cabang Ponpes Darunnajah Ulujami, Jakarta Selatan tersebut.
Berdiri di atas tanah wakaf pemberian tokoh Orde Baru, Beddu Amang, seluas kurang lebih 1,5 hektar tersebut, Darunnajah 9 Pamulang disulap menjadi sebuah pondok pesantren khusus putri bersistem asrama, penuh dengan suasana organisasi namun tetap berada pada kodrat kewanitaannya.
“Al-Hasanah memang disiapkan untuk menjadi tempat persemaian bagi calon ibu yang shalihah agar kelak dapat melahirkan generasi yang shalih dan shalihah,” ungkap Pimpinan Yayasan Darunnajah, KH Sofwan Manaf, dalam buku ‘Darunnajah Melangkah, Meluaskan Ladang Ibadah: Sejarah Pondok Pesantren Cabang’.
“Pesantren ini juga menerapkan pendidikan tentang keputrian seperti menjahit dan memasak. Maka tidak salah bila pondok ini diberi nama Al-Hasanah, karena yang menjadi target dan impian mereka adalah mendapatkan kehidupan yang hasanah di dunia dan hasanah di akhirat,” tambah Ustadz Sofwan, sapaan akrabnya.
Meski demikian, di awal pendiriannya, Pondok Pesantren Al-Hasanah diproyeksikan sebagai pondok pesantren yang menampung santri putra maupun santriwati dengan jenjang pendidikan SLTP dan Madrasah Aliyah.
Namun, sejak tahun ajaran 2014/2015, Pimpinan Darunnajah memutuskan bahwa Al-Hasanah hanya dikhususkan bagi pendidikan santri putri. Sedangkan santri putra yang kala itu masih berada di Al-Hasanah dipindahkan ke Pondok Pesantren Al-Manshur Darunnajah 3 Serang. Keputusan ini diambil oleh pihak yayasan agar proses pendidikan santri bisa berjalan dengan fokus.
“Keputusan ini terbukti efektif. Sejumlah prestasi telah dicapai oleh para santri putri pada beberapa kegiatan, baik antara cabang Darunnajah maupun di luar pondok,” imbuh Kiai Sofwan.
Sementara itu, Direktur Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI) Al-Hasanah, Nur Ali Saputra, mengamini langkah Pimpinan Yayasan Darunnajah dalam memisahkan santri dan santriwati di Al-Hasanah.
Nur Ali, sapaan akrabnya, berujar bahwa mendidik santri berbeda dengan santriwati. Jika santri dididik dengan pola kepemimpinan, maka santriwati perlu merasakan pendidikan keputrian yang berorientasi pada keutuhan fondasi keluarga.
“Santriwati lebih responsif. Umumnya, mereka lebih sulit dibentuk karena mengedepankan perasaannya yang sangat sensitif,” ungkap alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor itu kepada Majalah Gontor.
“Dalam ibadah, misalnya, mereka mengalami banyak udzur syar’i. Dalam belajar, meraka lebih sulit menghafal materi-materi pelajaran berbahasa Arab. Bahkan dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, mereka kurang meminati,” tambah Nur Ali.
Nur Ali juga menjelaskan jika Al-Hasanah memiliki sejumlah kegiatan ekstrakurikuler seperti basket, seni bela diri tapak suci, memanah, tahfidz, jurnalistik hingga drumb band.
“Tetapi, pramuka tetap menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang paling favorit bagi para santriwati,” katanya.
Wakaf Beddu Amang
Al-Hasanah dibangun di atas tanah wakaf pemberian Beddu Amang. Ustadz Sofwan menuturkan bahwa pada tahun 2007, Rasyidi, salah seorang wali santri SD Darunnajah bertemu dengannya sambil menyampaikan pesan Beddu Amang.
“Apakah pesantren Darunnajah berkenan menerima wakaf dari beliau (Beddu Amang)?” kata Ustadz Sofwan menirukan tawaran Beddu Amang melalui kalam Rasyidi.
Meski telah melakukan survei kelayakan lokasi, Darunnajah tidak serta merta langsung mendapatkan amanat wakaf. Akan tetapi, kurang lebih 3 tahun setelah tawaran tersebut terlontar, Beddu Amang dan istrinya, Hj Maisaroh berikrar wakaf sebesar 6.800 meter persegi tanah dan wakaf tunai sebesar satu miliar rupiah.
“Melalui wakaf tunai ini, dibangun 4 lokal asrama, 8 MCK, dapur dan masjid ukuran 10 x 10 meter persegi dua lantai. Selain itu, dana tersebut juga dialokasikan untuk membuat jalan di atas tanah wakaf sebesar 4 meter sepanjang 600 meter sebagai jalan akses dari jalan raya ke lahan pesantren,” ujar Ustadz Sofwan.
Tidak hanya itu, penamaan Al-Hasanah juga dinisbahkan kepada Hasan, orangtua Hj Maisaroh selaku pemilik awal lahan wakaf tersebut. Dia berharap lahan wakaf yang diberikan kepada Darunnajah tersebut dapat menjadi amal jariyah bagi Hasan.
Prestasi Darunnajah 9 Pamulang yang terus meningkat rupanya menjadi alasan di balik perluasan tanah wakaf di Al-Hasanah. Untuk fase yang kedua yaitu pada 12 Desember 2009, keluarga Beddu Amang memberikan wakaf seluas 3000 meter persegi dan wakaf tunai sebesar 350 juta rupiah yang lantas dibelikan tanah seluas 500 meter persegi di wilayah tersebut.
Sedangkan fase yang ketiga yaitu pada 18 April 2016, keluarga Beddu Amang kembali memberikan wakaf tanah seluas 3000 meter persegi senilai 10,5 miliar rupiah. Sehingga total tanah wakaf yang telah diberikan keluarga Beddu Amang kepada Al-Hasanah menjadi 13.900 meter persegi. [Mohamad Deny Irawan]






















