Jakarta, Gontornews — Membohongi anak mungkin menjadi hal sepele bagi sebagian orangtua. Biasanya, alih-alih ingin cepat menenangkan perilaku anak, orangtua justru dengan mudah berbohong kepadanya.
Abdullah ibn ‘Amir berkata, “Pada suatu hari ibuku memanggilku. Saat itu Rasulullah SAW sedang bertamu di rumah kami. Ibuku memanggil, ‘Kemarilah! Aku akan memberimu sesuatu.’ Maka Rasulullah SAW bertanya, ‘Apa yang akan kau berikan padanya?’ Ibuku menjawab, ‘Aku akan memberikannya kurma.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika engkau tidak memberinya sesuatu maka ditulis oleh malaikat bagimu satu kebohongan.’” HR Abu Daud dengan sanad shahih.
Ada juga istilah ‘bohong putih’ yang kerap diartikan sebagai kebohongan untuk tujuan baik anak. Dalam hal ini ‘bohong putih’ ditujukan untuk menyederhanakan masalah atau melindungi kepolosan anak yang belum cukup umur dan belum mengerti topik pembicaraan tertentu.
Ada juga istilah ‘bohong putih’ yang kerap diartikan sebagai kebohongan untuk tujuan baik anak. Dalam hal ini ‘bohong putih’ ditujukan untuk menyederhanakan masalah atau melindungi kepolosan anak yang belum cukup umur dan belum mengerti topik pembicaraan tertentu.
Dari sisi psikologi perkembangan anak, ‘berbohong putih’ ternyata bisa berdampak buruk bagi anak. Diantaranya, anak dapat ikut terbiasa berbohong, baik dalam kondisi terdesak maupun tidak.
Selain itu, anak akan sulit melatih dan mengembangkan nalar berpikirnya. Karena ia selalu disuguhi dengan hal-hal yang tidak benar.
Sebab itu, ahli perkembangan anak mengatakan bahwa solusi terbaik adalah dengan menghindari berbohong. Berusahalah untuk selalu jawab dengan jujur dan beri anak penjelasan sesuai kemampuannya menyerap informasi. [Edithya Miranti]





















