Tunis, Gontornews — Pemimpin berpengaruh dari Partai Islam Moderat Ennahda, Rached Ghannouchi, bersiap untuk berpartisipasi dalam pemilihan parlemen pada bulan Oktober mendatang.
Sejumlah pengamat memprediksi terlibatnya Ghannouchi dalam pemilihan parlemen ini sebagai upaya untuk mencari posisi kepemimpinan di negara tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Ghannouchi mengincar posisi Juru bicara Parlemen atau, bahkan, mengincar kursi Perdana Menteri Tunisia jika partainya memenangkan pemilu tahun ini.
Sejak diasingkan oleh Presiden Zine El Abidine Ben Ali dua dekade silam, Ghannouchi menjelma menjadi orang berpengaruh dalam revolusi Tunisia pada tahun 2011. Meski demikian, ia tidak pernah mencalonkan diri untuk posisi resmi apapun.
Kini di usianya yang sudah mencapai 78 tahun teguh pada pendiriannya untuk maju dalam pemilihan parlemen. Ghannouchi menjadi satu dari dua tokoh dominan yang mengendalikan engara bersama Presiden Caid Essebsi. Keduanya bahkan mendapatkan julukan “dua syeikh” sehubungan dengan sepuhnya usia mereka.
“Keputusan untuk menghadirkan Ghannouchi sebagai salah seorang calon anggota perleman nomor 1 agar para pemimpin partai dapat berperan penting dalam sejarah transisi demokrasi di Tunisia,” ungkap salah seorang anggota partai Ennahda, Imed Khmiri, sebagaimana dilansir Reuters.
Pemilihan umum parlemen di Tunisia tahun ini diikuti oleh partai Ennahda, partai Tahya Tounes pimpinan Perdana Menteri Youssef Chahed, partai Nidda Tounes pimpinan Hafedh Caid Essebsi, putra mantan Presiden Caid Essebsi, dan partai Courant Democrate.
Oleh dunia Barat, Tunisia mendapatkan banyak pujian atas perkembangan demokrasi setelah berhasil melewati pemberontakan yang dikenal dengan Arab Spring pada 2011 silam. Tunisia lantas mengubah konstitusi lamanya dan melakukan pemilihan umum secara bebas. Negara di Afrika Utara tersebut juga berhasil memposisikan kelompok Islam sekuler dan moderat sebagai koalisi pemerintahan di wilayah yang tengah berjuang menghadapai pergolakan.
Akan tetapi, kemajuan demokrasi di Tunisia tidak sejalan dengan perkembangan ekonomi di wilayah tersebut. Pasalnya, sejak mengalami Arab Spring, pertumbuhan ekonomi dan investasi di Tunisia juga lemah. Hal ini juga diperparah dengan meningkatnya angka pengangguran sekitar 15 persen atau naik 12 persen dari angka penangguran pada tahun 2010 silam. [Mohamad Deny Irawan]



















