Paris, Gontornews — Ratusan pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di Ibukota Prancis, Paris, untuk menunjukkan kecemasan hasil pemilu AS yang memenangkan Donald Trump sebagai Presiden mendatang. Sosok Trump yang kontroversial menjadi penyebab terjadinya demonstrasi tersebut.
Dengan membawa panci dan wajan, spanduk dan tulisan anti-Trump, masa demonstran meneriakkan “Tolak Trump, tidak ada kebencian, tidak ada KKK” dan “Hey hey, ho ho, Donald Trump harus pergi.” Masa berjalan di pusat kota dan melewati Menara Eiffel, Sabtu (19/11), waktu setempat.
Acara ini diselenggarakan oleh “Paris Against Trump” kelompok Facebook yang lahirpasca terpilihnya Trump sebagai Presiden AS pada awal November lalu. Kelompok ini tak ingin melihat miliarder taipan memimpin Gedung Putih.
Salah satu agenda dari demonstran juga bertujuan untuk menyatukan massa dari Amerika, Prancis dan warga negara lainnya yang anti-Trump. Mereka takut Trump akan mengulang zaman kemunduran ras, agama dan minoritas.
“Dalam menghadapi apa yang terjadi pada Trump, kita tidak bisa berpuas diri. Kita harus menyingsingkan lengan baju dan memobilisasi,” kata kelompok itu dalam manifesto menjelang protes.
“Kita harus menunjukkan kesediaan kita untuk memperjuangkan perlindungan hak-hak kita dan cita-cita demokrasi. Kita harus mengatakan tidak untuk rasisme, kebencian terhadap wanita, islamophobia, anti-Semitisme, ableism, xenophobia dan nasionalisme putih. Kita harus melawan kebencian dengan pesan-pesan toleransi, solidaritas dan cinta,” tambahnya.
Namun sebagian mereka yang liberal juga menyerukan antihomofobia dan transphobia. Penyelenggara mengatakan, warga anti-Trump diperkirakan mencapai 1.000 orang. Aksi serupa juga terjadi di Berlin, Brussels dan London.
Amy Layton, asisten dosen Amerika 22 tahun yang tinggal di Paris, mengatakan ia bergabung dalam aksi menentang Trump atas nama keadilan dan demokratisasi. Menurutnya, demonstran anti-Trump dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ada solidaritas di seluruh dunia yang merasa terancam oleh Trump.
Emily Lechner, seorang guru bahasa Inggris 32 tahun dari Montana di Amerika Serikat mengatakan, dirinya ikut menghadiri pawai anti-Trump untuk mengekspresikan solidaritas bersama orang yang sejalan.
“Banyak orang mengatakan bahwa kita hanya perlu menerima hasil pemilu sekarang, tapi saya tidak berpikir kita bisa atau harus menerimanya,” katanya. “Trump adalah orang yang perlu super diwaspadai,” tambahnya. [Ahmad Muhajir/Rus]





















