Gaza, Gontornews — Sebuah badan amal Amerika Serikat membangun rumah sakit darurat di Jalur Gaza guna mendukung program pariwisata ke Israel. Pembangunan rumah sakit tenda ini mengecewakan warga Palestina, tentunya, karena kondisi wilayah perbatasan Palestina-Israel yang tengah bergejolak dalam beberapa pekan terakhir.
Adalah organisasi FriendShips, yang dioperasikan kelompok Kristen Evangelis, yang menginisiasi pembangunan rumah sakit tenda di Jalur Gaza. Rencananya, mereka akan membangun 50 ruang inap di Gaza Utara di seberang perbatasan Erez di Israel.
Ironisnya, FriendShips mendapatkan persetujuan langka dari otoritas pemerintah Israel sekaligus Hamas, sebagai perwakilan masyarakat di Palestina. Keduanya bersepakat untuk meningkatkan kunjungan pariwisata di Israel dan Palestina.
“Kami akan menawarkan kesempatan luar biasa untuk bekerja dalam proyek penting dan produktif dan di saat yang sama, menikmati situs-situs Alkitab di Israel,” ungkap situs web FriendShips sebagaimana dilansir Reuters.
Meski demikian, belum ada tanda-tanda yang mengatakan bahwa Hamas akan membatalkan proyek tersebut seraya mengharapkan pemasukan negara dari sektor pariwisata.
“Kami tentu saja menentang segala bentuk penindasan terhadap rakyat kami guna memasarkan Israel atau menarik karyawan dengan biaya rakyat kami,” ungkap pejabat Hamas, Basim Naeem.
Secara de facto, gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berhasil ditengahi oleh Qatar, Mesir dan PBB. Tiga belas rumah sakit di Gaza sering mengeluhkan kurangnya peralatan kesehatan sementara dua juta penduduk Israel memerlukan izin yang sulit untuk mendapatkan perawatan medis di Israel ataupun Tepi Barat.
Pejabat senior Hamas, Khalil Al-Hayya, mengapresiasi pembangunan rumah sakit darurat di perbatasan Israel-Palestina, setidaknya untuk memudahkan akses kesehatan bagi rakyat Palestina.
“Ini akan menjadi alat kemanusiaan bagi rakyat kita. Jika tidak, kami akan meminta mereka untuk pergi dengan segera,” kata Khalil Al-Hayya.
Sementara itu, Israel menolak untuk mengomentari proyek tersebut. Bagi Israel, proyek tersebut akan membuat Gaza berada di bawah blokade serta mengkhawatirkan keamanan yang ditimbulkan oleh Hamas.
Di sisi lain, pembangunan rumah sakit dengan dana pribadi AS dikecam oleh otoritas Palestina yang menjalankan pemerintahan di Tepi Barat.
“Ini akan menjadi pangkalan militer Amerika dan Israel jika diajukan di Jalur Gaza,” pungkas Menteri Kesehatan Palestina, Mai Alkaila. [Mohamad Deny Irawan]






















