Bogota, Gontornews — Persatuan Bangsa-Bangsa memprediksi sejumlah pemimpin politik di seluruh dunia terancam menghadapi kemarahan warga negara yang meningkat jika mereka tidak dapat terlibat dengan populasi masyarakat yang merasa tidak bahagia.
Administrator United Nations Development Programme (UNDP), Achim Steiner, menyoroti meningkatnya jumlah kepala negara yang bergulat dengan demonstrasi di sejumlah negara di dunia. Steiner menyontohkan bagaimana demonstrasi di sejumlah negara di Amerika Selatan yang mengalami masalah ketidasetaraan.
“Mereka yang memegang kekuasaan perlu menyadari bahwa jika mereka tidak dapat merasakan perasaan duka yang dirasakan orang, maka legitimasi mereka akan ditentang,” kata Steiner dalam laporan tahunan UNDP tentang pembangunan manusia di Bogota, Kolombia.
“Saya berharap terjadinya banyak protes di masyarakat adalah sebuah panggilan untuk membangunkan (para pemimpin politik),” tambah Steiner sebagaimana dilansir Reuters.
Lebih lanjut, Steiner mengatakan bahwa fenomena demonstrasi di Kolombia dan sejumlah Amerika Latin terjadi akibat polarisasi politik dan terkadang ledakan protes kerap kali terjadi. Baru-baru ini sejumlah protes mengguncang sejumlah negara seperti di Cili, Ekuador dan Bolivia. Di tempat lain, demonstrasi masal terjadi di Lebanon dan Hong Kong.
“Bukan kebetulan bahwa ini bukan fenomena yang terjadi di Kolombia atau Amerika Selatan tapi itu terjadi di seluruh dunia,” ucap Steiner.
Steiner menambahkan jika gelombang protes yang terjadi di sejumlah negara di dunia tidak lahir dari perkembangan ataupun tren jangka panjang. Bisa jadi, jelas Steiner, masalah tersebut dipicu karena rasa keprihatinan terhadap aspek keadilan dalam sebuah negara.
“(Demonstrasi di sejumlah negara mencerminkan) rasa keprihatinan yang mendasar, frustasi serta kurangnya rasa keadilan,” pungkas Steiner. [Mohamad Deny Irawan]



















