Kiel, Gontornews — Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti asal Geomar Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel menemukan bahwa perubahan iklim mungkin saja mengurangi pasokan zat besi di lautan. Padahal, kandungan besi di lautan merupakan nutrisi penting bagi biota laut berukuran besar maupun kecil.
Dalam penelitian yang dilansir Scitech Daily tersebut, mereka mendeteksi bahwa kurangnya kandungan zat besi di air laut membatasi pertumbuhan plankton termasuk di sebagian besar wilayah perairan Kutub dimana banyak terdapat gunung es.
Namun, masifnya pencairan gunung es akibat perubahan iklim dianggap berkontribusi besar dalam berkurangnya nutrisi penting bagi makhluk hidup laut tersebut.
Penelitian yang diterbitkan oleh International Journal Nature Communications itu mengatakan bahwa tidak selamanya pencairan gunung es akibat perubahan iklim menyebabkan kurangnya pasokan zat besi di Kutub.
“Bekerjasama dengan mitra di IDEAL Center for Oceanography di Cili, Greenland, Islandia dan Spitsbergen, kami berhasil mengumpulkan sampel es di sebagian besar gletser laut yang ada di seluruh dunia,” ungkap penulis utama dalam penelitian ini, Dr Mark Hopwood, dari Geomar.
“Ketika kami mengumpulkan sampel di perairan pantai sekitar Spitsbergen, kami melihat gunung es yang relatif kecil tiba-tiba terbelah menjadi dua dan masuk ke dalam air. Jika hal tersebut terjadi pada gunung es yang besar maka proses pengambilan sampel dari kapal kita bisa sangat berbahaya,” tambah Hopwood.
Dalam analisa awal, komposisi kandungan zat besi dalam es di Greenland dan di Patagonia tidak berbeda jauh. Namun, para penliti lantas menemukan ada satu gunung es yang memiliki sedikit kandungan zat besi. Perbedaannya pun terbilang signifikan karena bisa terjadi sebanyak satu juta kali lipat.
“Hipotesis umum adalah bahwa meningkatnya jumlah gunung es yang mengapung di lautan dapat meningkatkan efek fertilisasi,” ujar Hopwood.
Hopwood menambahkan bahwa dinamika “es bersih” dan “es kotor” memainkan peranan penting dalam mengubah produksi kandungan nutrisi di lautan. Hopwood pun mengaku bahw penelitian lanjutan sangat diperlukan.
“Sayangnya, banyak pertanyaan yang belum terjawab. Misalnya, dari mana es yang kaya sedimen berasal, bagaimana ia bervariasi secara global dan dalam dimensi spasial dan temporal apa ia dapat melepaskan zat besi melaluu proes peleburan di lautan,” pungkas Hopwood dalam penelitian berjudul “Highly variable iron content modulates iceberg-ocean fertilization and potential carbon export”. [Mohamad Deny Irawan]




















