Belgrade, Gontornews — Ratusan pengunjuk rasa asal Serbia melakukan demonstrasi di depan Kantor Kedutaan Besar Montenegro di Belgard, Jum’at (27/12). Para demonstran menolak Undang-undang yang memungkinkan pemerintah Montenegro untuk menguasai gereja-gereja Serbia sebagai milik negara.
Undang-undang ini lantas mendapatkan protes keras dari kelompok gereja ortodoks Serbia dan sejumlah anggota parleman yang pro terhadap Serbia.
“(Penerbitan undang-undang) itu belum pernah terlihat dalam sistem demokrasi. Di parlemen pun belum ada anggota parlemen pro Serbia yang ditangkap secara brutal selama sidang berlangsung,” ungkap seorang demonstran bernama Nemanja Vuckovic sebagaimana dilansir Euro News.
Meski sempat diamankan, dua anggota parlemen pro Serbia yang diketahui bernama Andrija Mandic dan Ivan Knezeviv telah diamankan.
“Kami siap mati demi gereja kami. Dan itulah yang kami tunjukkan malam ini,” tutur Mandic selama sidan parlemen berlangsung.
Melalui undang-undang tersebut, pemerintah meminta kepada seluruh komunitas agama di Montenegro untuk menunjukkan bukti kepemilikan properti sebelum 1918 atau ketika Montengro masih tergabung dengan kerajaan Balkan.
Presiden Montenegro, Milo Djukanovic, mengatakan bahwa kebijakan ini tidak lepas dari isu yang menuduh gereja ortodokos Serbia mempromosikan kebijakan pro-Serbia dan berusaha merusak sistem kewarganegaraan di Montenegro sejak merdeka dari Serbia pada 2006 silam.
Sebagaimana diketahui, Montenegro merupakan negara kecil Adriatik yang memiliki hubungan dengan dengan Serbia. Sekitar 30 persen populasi Montenegro berdarah Serbia dan penentang keras terpisahnya Montenegro dari Serbia. [Mohamad Deny Irawan]






















