Antananarivo, Gontornews — Setidaknya 31 orang tewas di Madagaskar setelah sepekan hujan lebat dan banjir di bagian barat laut negara itu, kata para pejabat pada hari Sabtu (25/1). Setidaknya 15 orang masih hilang di pulau wisata popular itu karena banjir semakin meningkat di distrik Mitsinjo dan Maevatanana. Demikian menurut kantor manajemen bencana nasional negara itu.
Seperti dirilis Aljazeera, hujan deras juga membuat jalan-jalan penting tidak dapat dilewati, sementara bendungan di dekat kota Tanambe telah jebol, membanjiri desa-desa dan tanah pertanian.
Biro Nasional Manajemen Risiko Bencana (BNGRC) memperingatkan bahwa banjir di dataran rendah dan daerah persawahan padi juga menimbulkan risiko “kerawanan pangan dan kekurangan gizi”.
Gangguan dalam pasokan barang-barang kebutuhan pokok juga dapat menyebabkan lonjakan harga, tambah BNGRC.
Cuaca buruk telah menyebabkan hampir 107 ribu orang mengungsi.
Perdana Menteri Madagaskar Christian Ntsay menyatakan situasi sebagai “bencana nasional”.
“Pemerintah meminta tokoh nasional dan mitra internasional untuk membantu orang-orang Malagasy dengan bantuan darurat, pemulihan dini, rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata jurubicara Lalatiana Andriatongarivo dalam sebuah pernyataan.
Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga April di bekas koloni Prancis di lepas pantai Afrika bagian tenggara itu.
Pemanasan global telah meningkatkan risiko dan intensitas banjir, karena atmosfer menyimpan lebih banyak air dan pola curah hujan terganggu.
Daerah perkotaan yang dibangun dengan sistem drainase yang buruk sangat rentan terhadap hujan lebat, kata para ilmuwan. []




















