Jerusalem, Gontornews — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memastikan bahwa pesawat komersial Israel dapat melintasi wilayah udara Sudan, Senin (17/2). Kepastian ini dihasilkan setelah PM Israel melakukan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin de facto negara-negara muslim di Afrika bulan ini.
Pemerintah Sudan mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan pesertujuan awal bagi pesawat Israel untuk melewati wilayah udaranya pada 5 Februari lalu. Dua hari setelahnya, kepala militer Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, bertemu Netanyahu di Uganda.
“Sekarang, pembicaraan normalisasi (hubungan Sudan-Israel) dipercepat. Pesawat Israel pertama telah melintas di atas langit Sudan kemarin (16/2),” ujar Netanyahu di hadapan para pemimpin Yahudi di Amerika Serikat.
Bagi Pemerintah Israel hasil pertemuan ini sangat menguntungkan. Pasalnya, dengan melalui jalur udara Sudan, waktu penerbangan menuju atau dari Amerika Serikat lebih cepat tiga jam.
Sebelumnya, Sudan yang mendukung Palestina, telah menghentikan pembicaraan mengenai pembukaan jalur udara sebagai bentuk normalisasi hubungan dengan Israel. Di sisi lain, Israel menganggap Sudan sebagai ancaman keamanan karena mencurigai keterlibatan Iran yang menyelundupkan amunisi ke Jalur Gaza melalui Sudan.
Selain Sudan, rute penerbangan Israel-Amerika Serikat juga akan melewati wilayah udara negara muslim di Afrika semisal Mesir dan Chad.
Normalisasi hubungan dengan Israel-Sudan berpotensi merusak kesepakatan negara-negara muslim Afrika pada 1967 yang menyepakati tiga hal: tidak mengakui Israel, tidak ada perdamaian dengan Israel dan tidak ada negosiasi dengan Israel.
Dalam pertemuan Israel dengan negara-negara muslim Afrika, pembicaraan mengenai koridor udara menjadi pembahasan terbuka yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
Melalui kontak tersebut, Sudan memungkinkan melakukan proses pemulangan warganya yang masuk Israel secara ilegal. Di sisi lain, Israel siap untuk melobi Amerika Serikat untuk meningkatkan posisi Sudan di Washington. [Mohamad Deny Irawan]






















