Vatican City, Gontornews — Presiden Palestina Mahmoud Abbas bertemu Paus Francis untuk pembukaan Kedutaan Besar Palestina, satu hari sebelum konferensi perdamaian di Paris. Abbas meresmikannys Sabtu (14/1) di Vatican City, satu hari sebelum perwakilan dari 72 negara berkumpul di ibukota Prancis untuk konferensi perdamaian Israel-Palestina.
Issa Kassissieh duta Palestina untuk Tahta Suci menyebut langkah itu sebagai prestasi yang signifikan bagi rakyat Palestina dan mengatakan Paus telah mengambil sikap moral, hukum dan politik dengan mengakui negara Palestina dengan wilayah sebelum tahun 1967.
Vatikan yang menikmati hubungan dekat dengan Israel juga mendukung pembentukan negara Palestina. Otoritas Palestina menginginkan sebuah negara merdeka di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dan Gaza – daerah yang selama ini diduduki Israel dan melanggar hukum internasional sejak perang 1967.
Abbas mengatakan konferensi Paris pada Ahad (15/1) mungkin menjadi kesempatan terakhir untuk menerapkan solusi dua-negara. Konferensi Paris diadakan di tengah meningkatnya kekhawatiran warga Palestina atas goyahnya dukungan Presiden AS terpilih Donald Trump kepada Palestina.
Trump berulang kali mengatakan akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan bulan lalu memilih David Friedman, seorang pengacara sayap kanan, sebagai duta besarnya untuk Israel.
Abbas menegaskan, jika Trump tetap memindahkan kedutaan AS itu akan merugikan proses perdamaian.
“Kami sedang menunggu untuk melihat apakah hal itu terjadi. Jika tidak akan membantu perdamaian dan kami berharap hal itu tidak terjadi,” ujarnya seperti lansir Aljazeera, Ahad (15/1).
Konferensi ini juga berlangsung kurang dari sebulan setelah Israel ‘mengurangi’ hubungan dengan beberapa negara yang mendukung resolusi PBB menuntut diakhirinya pembangunan pemukiman.
Sementara itu, kelompok hak asasi Israel B’Tselem, mengklaim bahwa setengah juta lebih warga Israel tinggal di pemukiman Yahudi salah saktunya di seluruh Tepi Barat, termasuk di kantong-kantong di Yerusalem Timur. [Ahmad Muhajir/Rus]


















