Khartoum, Gontornews — Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok, resmi mundur dari jabatannya, Ahad (2/1/2022) malam. Pengunduran diri Hamdok tidak lepas dari kebuntuan politik dan meluasnya protes pasca kudeta militer yang menyebabkan kegagalan proses transisi demokrasi pemerintahan Sudan.
Keputusan Hamdok tiba setelah enam pekan ia kembali ke jabatannya sebagai Perdana Menteri. Namun, sejak ia kembali, kesepakatan transisi urung terealisasi oleh kedua belah pihak sehingga menciptakan kebuntuan.
Sebagai informasi, militer Sudan pimpinan Abdel Fattah Al-Burhani menangkap Hamdok dan sejumlah politisi dari kalangan sipil dengan dalih penyelamatan transisi politik Sudan.
Dalam pidatonya, Hamdok mendorong pembicaraan meja bundar dari semua pihak. Hamdok berharap pihak-pihak terkait menyepakati piagam nasional yang baru serta membangun roadmap baru untuk menyelesaikan persoalan transisi demokrasi di Sudan.
βSaya memutuskan untuk mengembalikan tanggungjawab dan mengumumkan pengunduran diri saya sebagai Perdana Menteri. Saya memberikan kesempatan kepada pria atau wanita di negara yang mulia ini untuk membantu melewati sisa periode transisi ke negara demokrasi sipil,β kata Hamdok sebagaimana dilansir Al-Jazeera.
Hamdok berlatar belakang sebagai ekonom dan seorang mantan pejabat pemerintah Sudan untuk PBB. Hamdok menjabat sebagai Perdana Menteri di bawah perjanjian pembagian kekuasaan yang berjanji untuk mengadakan pemilihan multi-partai pada 2023 mendatang.
Namun, renggangnya hubungan militer dan sipil di Sudan membuat Hamdok ditangkap dan ditahan oleh militer. Militer Sudan diketahui menolak untuk menyerahkan kekuasaan ke komite transisi demokrasi sipil.
Pada 21 November lalu, militer kembali mengangkat Hamdok sebagai Perdana Menteri dengan tugas membentuk kabinet teknokratis independen di bawah pengawasan militer. Tetapi, gerakan pro-demokrasi Sudan mengecam kesepakatan tersebut dan bersikeras bahwa militer harus menyerahkan segala kekuasaannya kepada pemerintah sipil sepenuhnya.
βSaya berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah negara kita jatuh ke dalam bencana. Sekarang, bangsa kita sedang mengalami titik balik berbahaya yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya kecuali ada perbaikan,β sambung Hamdok menutup. [Mohamad Deny Irawan]






















